Rabu, 27 Mei 2020 14:05 WIB

Alasan WHO Setop Uji Coba Obat Malaria yang Dipakai RI untuk Pasien Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ilustrasi obat WHO setop uji coba obat malaria untuk pasien Corona, ini alasannya. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghentikan sementara uji klinis pengobatan pasien Corona dengan obat malaria seperti hydroxychloroquine dan klorokuin. Klorokuin sendiri diketahui sebagai obat yang digunakan Indonesia untuk pasien Corona.

Alasannya disebut WHO demi keamanan pasien Corona. Keputusan WHO ini berdasarkan sebuah studi yang terbit dalam jurnal The Lancet. Ditemukan pasien Corona yang mengkonsumsi obat malaria alami masalah pada jantung bahkan peningkatan risiko meninggal.

"Kelompok eksekutif menetapkan menghentikan sementara hydroxychloroquine dalam uji coba, sementara data keselamatan ditinjau oleh Dewan Pemantau Keamanan Data," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual dikutip dari AFP, Selasa (26/5/2020).

Mandeep Mehra, kepala studi uji klinis tersebut sekaligus direktur Brigham and Women's Hospital Heart and Vascular Center merekomendasikan rumah sakit untuk berhenti menggunakan obat malaria hydroxychloroquine maupun klorokuin dalam menangani pasien virus Corona COVID-19.

"Data kami menunjukkan dengan sangat yakin bahwa di seluruh dunia kombinasi obat ini dengan cara apapun tidak menunjukkan bukti yang bermanfaat," ujar Mehra.

Studi yang terbit di jurnal The Lancet ini menganalisis lebih dari 96 ribu pasien virus Corona COVID-19 pada 671 rumah sakit di enam benua. Dari sekian banyak pasien Corona, disebutkan total pasien Corona yang menggunakan hydroxychloroquine atau klorokuin tidak mencapai 15 ribu pasien.

Peneliti menemukan satu dari 11 pasien yang termasuk dalam kelompok tidak mendapat obat malaria meninggal. Sementara satu dari enam pasien yang diobati dengan hydroxychloroquine atau chloroquine meninggal. Artinya risiko lebih tinggi meninggal terjadi pada pasien Corona dengan pengobatan hydroxychloroquine atau klorokuin.

Tak hanya itu, peneliti juga menemukan pasien Corona mengalami gangguan irama detak jantung atau aritmia. Disebutkan bahwa masalah aritmia paling banyak timbul pada pasien yang diberi obat malaria hydroxychloroquine dan antibiotik sebanyak 8 persen.

Ahli penyakit menular dari University of Minnesota, David Boulware, yang juga mempelajari hydroxychloroquine sebagai pengobatan virus Corona COVID-19 mengatakan obat ini tidak memiliki manfaat, malah meningkatkan risiko kematian pada pasien Corona.

"Sebelumnya, data menunjukkan tak ada manfaat secara keseluruhan dari hydroxychloroquine, studi ini juga menunjukkan bahaya dari penggunaan obat malaria. Tentu ini meningkatkan bukti bahwa hydroxychloroquine atau klorokuin seharusnya tidak digunakan untuk merawat pasien Corona," jelas David, dikutip dari CNN.

Studi lain yang dipublikasikan Journal of the American Medical Association juga menunjukkan hal serupa. Ditemukan bahwa obat malaria hydroxychloroquine atau klorokuin tidak dapat membantu melawan virus Corona dan dapat menyebabkan masalah jantung.



Simak Video "Kesalahan Strategi Negara dalam Tangani Corona Menurut WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)