Kamis, 28 Mei 2020 14:50 WIB

WHO Minta Setop, RI Masih Akan Pakai Klorokuin untuk Obati Corona

Firdaus Anwar - detikHealth
obat Indonesia masih menggunakan klorokuin untuk pasien Corona. (Foto ilustrasi: Thinkstock)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dilaporkan meminta Indonesia berhenti menggunakan obat klorokuin dan hidroklorokuin pada pasien Corona. Alasannya karena bukti studi menunjukkan obat yang biasa dipakai untuk penyakit malaria tersebut tidak bermanfaat pada kasus infeksi COVID-19, malah meningkatkan risiko kematian.

"Kelompok Eksekutif telah memutuskan menghentikan sementara penggunaan hidrokolorokuin dalam Solidarity Trial sementara data dianalisa oleh Dewan Pengawas Keamanan Data," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Solidarity Trial adalah nama program yang dikelola WHO untuk mempercepat pengembangan obat dan vaksin virus Corona COVID-19. Negara yang bergabung dalam program tersebut saling berbagi data eksperimen yang dilakukan.

Tapi kita kan masih perlu meneliti data kita sendiri. Karena data yang di jurnal itu kan data orang luar. Kita lihat apakah Indonesia seperti itu? Kalau di Indonesia bermanfaat ya kita terus aja.dr Erlina Burhan, SpP(K) - RS Persahabatan

Spesialis paru-paru dr Erlina Burhan, SpP(K), MSc, dari RSUP Persahabatan menjelaskan saat ini klorokuin memang tidak lagi digunakan pada pasien Corona yang terlibat dalam program Solidarity Trial di Indonesia. Namun, dokter masih memakai klorokuin untuk pasien Corona lain.

Menurut dr Erlina alasannya karena para ahli di Indonesia juga menjalankan studi sendiri. Sejauh ini klorokuin disebut bisa membantu kesembuhan para pasien.

"WHO itu berdasarkan jurnal Lancet yang katanya hidroklorokuin tidak bermanfaat," kata dr Erlina pada detikcom, Kamis (28/5/2020).

"Tapi kita kan masih perlu meneliti data kita sendiri. Karena data yang di jurnal itu kan data orang luar. Kita lihat apakah Indonesia seperti itu? Kalau di Indonesia bermanfaat ya kita terus aja," lanjutnya.

dr Erlina menjelaskan ada perbedaan metode pemberian obat yang dilakukan pada pasien di Solidarity Trial dengan pasien Corona lain. Dalam laporan di The Lancet obat cenderung diberikan dengan dosis tinggi dan jangka waktu relatif panjang, sementara pasien Corona lainnya di Indonesia diberi obat dalam dosis rendah selama lima hari.

"Jadi kita sampai saat ini masih memakai untuk pasien biasa. Tapi pasien penelitiannya WHO ya kita enggak pakai," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito menyebut WHO akan memberikan hasil penilaian final mengenai penggunaan obat malaria tersebut untuk penanganan COVID-19.

"Indonesia adalah bagian dari penerapan solidarity trial, karena itu Indonesia ikuti instruksi WHO untuk klorokuin," kata Prof Wiku, dikutip dari Antara.

[Gambas:Video 20detik]



(fds/up)