Kamis, 04 Jun 2020 17:15 WIB

Peneliti UGM: Penerapan Herd Immunity Corona Secara Alami Berbahaya

Sukma Indah Permana - detikHealth
Pengendara melintas di depan mural tentang pandemi COVID-19 di Kawasan Bangil, Pasuruan, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (20/4/2020). Mural tersebut dibuat bertujuan untuk mensosialisasikan dan mengedukasi warga agar tetap waspada terhadap potensi penyebaran virus corona atau COVID-19. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/wsj. Virus Corona COVID-19 (Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq)
Yogyakarta -

Penerapan strategi herd immunity untuk menghambat penyebaran virus corona jenis baru penyebab COVID-19, SARS-CoV-2 masih menjadi kontroversi. Seorang peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai herd immunity dengan infeksi secara alami sangat berisiko.

Melalui keterangan tertulis yang diterima detikcom dari humas UGM, Kamis (4/6/2020), Dosen sekaligus peneliti virus Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, dr Mohamad Saifudin Hakim, M Sc, Ph D, menjelaskan bahwa herd immunity dengan infeksi secara alami sangat berisiko. Sebab, kata Hakim, tak hanya menyebabkan terjadinya sakit atau penyakit, namun individu yang terkena infeksi alami juga berpotensi menjadi agen penularan.

Hakim mengungkap kondisi tersebut akan semakin memakan banyak korban jiwa sampai pada tahap penularan dapat berhenti setelah individu yang tersisa dapat bertahan hidup dan memiliki kekebalan. Sementara itu, lanjut Hakim, dalam kasus COVID-19, belum ada kepastian apakah kekebalan yang didapat secara alami terhadap SARS-CoV-2 benar-benar dapat melindungi seseorang dalam jangka waktu yang lama atau tidak akan terinfeksi kembali.

"Sayangnya, untuk kondisi sekarang ini, vaksin masih agak jauh tahap pengembangannya untuk bisa secara efektif mengatasi COVID-19," terang dosen Departemen Mikrobiologi FKKMK UGM ini.

Hakim menjelaskan herd immunity atau yang dikenal sebagai kekebalan kelompok merupakan kondisi ketika suatu kelompok atau populasi manusia kebal atau resisten terhadap penyebaran suatu penyakit infeksi. Untuk mencapai kekebalan kelompok tersebut, sebagian besar populasi harus memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit.

Dengan begitu, mayoritas populasi yang telah kebal akan dapat melindungi sebagian kecil masyarakat yang belum memiliki kekebalan, misalnya karena terdapat kontraindikasi dilakukannya tindakan vaksinasi.

"Virus itu kan butuh inang (host) untuk mempertahankan siklus hidupnya. Dan saat individu dalam populasi kebal terhadap virus tersebut, maka virus tidak bisa lagi menemukan inang untuk hidup," kata Hakim.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4


Simak Video "Aturan Longgar dan Targetkan Herd Immunity COVID-19, Swedia Gagal?"
[Gambas:Video 20detik]