Jumat, 10 Jul 2020 13:50 WIB

4 Istilah Virus Corona dan Artinya, Klaster hingga Airborne

Ayunda Septiani - detikHealth
Sejak memasuki pandemi COVID-19, petugas medis terus berjuang tiada henti untuk memerangi Corona. Virus Corona COVID-19 (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Pemberitaan tentang virus Corona COVID-19 sering disertai istilah-istilah teknis. OTG misalnya, singkatan dari orang tanpa gejala, yang mendominasi klaster Sekolah Calon Perwira TNI AD di Jawa Barat. Eh, 'klaster' sendiri artinya apa ya?

Nah, bingung kan? Supaya mudah mengartikannya, detikcom merangkum beberapa istilah teknis seputar virus Corona yang muncul belakangan ini.

1. Klaster

Istilah virus corona yang sering digunakan adalah klaster atau cluster. Istilah ini memiliki arti satu kelompok dengan satu kejadian kesehatan yang sama.

Contoh istilah yang berkaitan adalah kluster Secapa AD, Bandung. Disebut demikian karena penularan Corona terjadi pada satu kelompok yang sama dan kasus saling berhubungan.

Pada awal-awal virus Corona COVID-19 ditemukan di Indonesia, tiga pasien pertama berasal dari sebuah klaster yang disebut klaster dansa.

2. OTG

Masih terkait klaster Secapa TNI AD, sebanyak 1.245 pasien di klaster tersebut merupakan OTG atau orang tanpa gejala. Apa sih yang dimaksud dengan OTG?

Orang tanpa gejala (OTG) adalah mereka yang terinfeksi dari virus Corona, tetapi tidak menunjukkan adanya gejala. Namun, OTG ini bisa menularkan virus Corona ke orang lain tanpa disadari.

"Dan kita tahu dari studi epidemiologi, mereka bisa menularkan kepada seseorang yang tidak terinfeksi bahkan ketika mereka tanpa gejala," kata Dr Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular yang dikutip dari ABC.

3. Airborne

Baru-baru ini, 239 ilmuwan dari 32 negara mengklaim punya bukti virus Corona COVID-19 bisa menular lewat udara alias airborne. Penularan secara airborne berbeda dengan penularan melalui droplet atau percikan dahak saat batuk.

Dikutip dari healthline, airborne atau airborne disease adalah penyakit yang bisa menyebar lewat udara. Akibatnya seseorang bisa sakit hanya karena dia menghirup udara yang telah tercemar virus atau bakteri penyebab penyakit.

Airborne disease bisa menyebar saat ada pasien yang menunjukkan gejala infeksi seperti batuk, bersin, atau sekadar bicara. Gejala tersebut mengakibatkan cairan pada tenggorokan dan saluran pernapasan keluar dan melayang-layang, menyatu dengan udara.

Beberapa kelompok virus dan bakteri bisa menggantung di udara, terbawa angin, atau mendarat di orang lain. Patogen ini masuk ke dalam tubuh melalui udara yang terhirup atau menyentuh sembarang permukaan. Tangan yang digunakan menyentuh permukaan kemudian memegang mata, hidung, dan mulut tanpa dicuci lebih dulu.

Penyebaran kelompok airborne disease yang menyebar di udara cenderung sulit dikontrol. Karena itu, sangat penting mengetahui upaya pencegahan yang tepat sehingga tidak mudah terinfeksi.

4. Mikrodroplet

Masih terkait dengan penularan secara airborne, virus bisa saya melayang-layang di udara jika ukurannya sangat kecil. Droplet atau percikan dahak yang mengandung virus juga bisa ditemukan dalam ukuran sangat kecil, yang disebut mikrokroplet.

Ahli paru dari RS Persahabatan, dr Erlang Samoedro, SpP menjelaskan penularan lewat udara atau airborne menyebar karena ukuran droplet lebih kecil atau disebut dengan mikrodroplet. Ukuran mikrodroplet bahkan hampir mirip dengan ukuran virus Corona sendiri.

"Itu kan kalau droplet biasa lebih besar daripada ukuran virus biasa, ini kalau mikrodroplet itu kecil banget udah kaya seukuran virus itu sendiri sehingga dia bisa berterbangan sampai jauh," jelas dr Erlang saat dihubungi detikcom Jumat (10/7/2020).

Karena ukuran mikrodroplet lebih kecil maka menurut dr Erlang dia bisa menyebar lebih jauh. Bahkan lebih dari jarak aman yang selama ini disebut yaitu 1 hingga 2 meter.

"Kalau micro kan lebih kecil jadi dia beratnya ringan sangat ringan jadi dia bisa jaraknya lebih jauh daripada droplet, droplet kan sejauh 2 meter, kalau mikrodroplet lebih jauh lagi," lanjut dr Erlang.



Simak Video "Pentingnya Protokol VDJ untuk Mengurangi Risiko Penularan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)