Sabtu, 11 Jul 2020 12:00 WIB

4 Hal Mengenai Penularan Corona Secara Airbone yang Sering Ditanyakan

Elsa Himawan - detikHealth
Warga Padang, Sumatera Barat, beraktifitas di  tengah kepulan kabut asap, Kamis (08/10/2015). Masih diselimutinya kawasan sekitaran padang membuat sejumlah warga harus mengenakan masker saat beraktivitas. Grandyos Zafna/detikcom. Pakai masker secara tepat bisa memutus penularan Corona lewat udara. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Lebih dari tujuh bulan virus Corona terdeteksi di banyak negara. Kini para ilmuwan dan pakar kesehatan masih berusaha menemukan pemahaman yang lebih baik mengenai cara penyebaran dan solusi untuk mengatasi penyakit yang mengganggu pernapasan ini.

Menurut WHO, virus Corona ditularkan dari orang ke orang melalui "transmisi droplet", termasuk kontak langsung dengan seseorang yang telah terinfeksi, kontak tidak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi, tetesan air liur dari batuk atau keluar dari hidung ketika bersin.

Penularan lewat udara, memicu perdebatan bagi para ilmuwan. Meski demikian, saat ini para ilmuwan mempercayai bahwa adanya bukti jika virus ini dapat ditularkan lewat droplet lebih kecil yang disebut aerosol. Biasanya dihasilkan ketika orang-orang berteriak dan bernyanyi.

Berikut 4 hal yang sering ditanyakan soal transmisi Corona secara airborne.

1. Apakah aerosol sama dengan droplet?

Droplet berukuran lebih besar. Diameter nya sekitar 5 hingga 10 mikrometer dan rentang paparan adalah satu hingga dua meter (tiga hingga enam kaki). Sementara aerosol adalah ukuran droplet yang sangat kecil dan bisa bertahan lama di udara, tergantung pada suhu dan kelembaban.

"Virus Corona dapat bertahan hidup di droplet dan aerosol hingga tiga jam di bawah kondisi eksperimental, meskipun ini tergantung pada suhu dan kelembaban, sinar ultraviolet, bahkan keberadaan jenis partikel lain di udara," ujar Stephanie Dancer, seorang konsultan medis ahli mikrobiologi di Inggris kepada Al Jazeera.

2. Bagaimana proses penyebaran aerosol?

Seperti dalam transmisi droplet, aerosol dapat dilepaskan dalam beberapa cara termasuk; bernapas, berbicara, tertawa, bersin, batuk, bernyanyi dan berteriak.

"Pernapasan tidak akan melepaskan banyak partikel, tetapi berteriak, bernyanyi, batuk, dan bersin, dapat memunculkan aerosol melalui udara dengan berbagai kecepatan yang berbeda," kata Dancer.

Penularan melalui udara juga dapat terjadi dalam prosedur medis tertentu yang melibatkan pasien yang menghasilkan aerosol, sehingga menempatkan petugas kesehatan pada risiko.

"Coronavirus dapat disebarkan oleh aerosol dalam keadaan khusus jika menggunakan nebuliser, bronkoskopi, intubasi, gigi dan prosedur oral lainnya menggunakan penyedotan dan bilas," kata Naheed Usmani, presiden Asosiasi Dokter Keturunan Pakistan di Amerika (APPNA) melalui Al Jazeera.

3. Seberapa besar potensi penularan Corona lewat udara?

WHO telah lama menyatakan bahwa sumber utama infeksi adalah melalui transmisi droplet. Namun belum lama WHO menyatakan ada "bukti yang muncul" dari penularan melalui udara.

"Kemungkinan penularan melalui udara dalam pengaturan publik, terutama dalam kondisi yang sangat spesifik, padat, memang tidak dapat dikesampingkan," ucap Benedetta Allegranzi, selaku pimpinan teknis WHO untuk pencegahan dan pengendalian infeksi.

Sebanyak 239 ilmuwan dari 32 negara dan berbagai bidang menyatakan dalam surat terbuka bahwa ada "risiko nyata" penularan melalui udara, terutama di area dalam ruangan, tertutup dan ramai tanpa ventilasi yang tepat.

4. Bagaimana upaya pencegahan Corona lewat udara?

Mengenakan masker wajah dengan benar dan menjaga jarak fisik dianjurkan setiap saat, dan ini telah menjadi aturan yang wajib bagi setiap orang. Pun, para ahli juga merekomendasikan untuk menghindari tempat-tempat ramai, terutama transportasi umum.

Selain itu, upaya dari pencegahan virus Corona menjadi bertambah yaitu meningkatkan ventilasi dalam ruangan, dan menyediakan pembersih udara atau filter udara efisiensi tinggi (HEPA) portabel atau lampu ultraviolet (UV) pada kebutuhan perkantoran, sekolah, atau perindustrian.

"Di ruang tertutup di sekolah, kantor dan rumah sakit, meningkatkan ventilasi yang baik dengan udara terbuka dengan membuka jendela juga dapat mengurangi risiko infeksi, kata Jose-Luis Jimenez, seorang ahli kimia di University of Colorado.



Simak Video "6 Hal yang Harus Diperhatikan Terkait Penularan COVID-19 Lewat Udara"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)