Minggu, 12 Jul 2020 05:00 WIB

Bagaimana Virus Corona Menyerang Banyak Organ Tubuh Selain Paru-paru?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Virus CoronaCOVID-19 tidak hanya ditemukan menyerang paru-paru. Ginjal, hati, jantung, otak, sistem saraf, kulit, dan saluran pencernaan juga terdampak virus Corona, demikian laporan tinjauan medis terkait kondisi pasien Corona.

Dikutip dari CNN International, tim di Pusat Medis Irving Universitas Columbia di New York City, salah satu rumah sakit yang dipenuhi pasien Corona mengumpulkan laporan dari tim medis lain di seluruh dunia.

Gambaran komprehensif mereka menyebutkan virus Corona hampir menyerang setiap sistem utama dalam tubuh manusia. Disebutkan, secara langsung merusak organ dan menyebabkan darah menjadi beku, serta jantung kehilangan ritme sehatnya. Hal ni menyebabkan sakit kepala, pusing, nyeri otot, sakit perut, dan gejala lainnya muncul bersamaan dengan gejala pernapasan klasik seperti batuk dan demam.

"Dokter perlu menganggap virus Corona COVID-19 sebagai penyakit multisistem," kata Dr Aakriti Gupta, seorang ahli kardiologi di Columbia yang bekerja pada tinjauan, dalam sebuah pernyataan.

"Ada banyak berita tentang pembekuan darah, tetapi juga penting untuk memahami bahwa sebagian besar pasien ini mengidap kerusakan ginjal, jantung, dan otak, dan dokter perlu merawat kondisi itu bersama dengan penyakit pernapasan," lanjut Gupta.

"Temuan ini menunjukkan bahwa cedera multi-organ dapat terjadi setidaknya kebanyakan karena kerusakan jaringan virus langsung," sebut para tim penulis.

Infeksi virus Corona juga dapat mengaktifkan sistem kekebalan tubuh. Bagian dari respons sistem kekebalan tubuh termasuk produksi protein inflamasi atau peradangan yang disebut sitokin.

Peradangan ini dapat merusak sel-sel dan organ-organ dan yang disebut badai sitokin. Hal ini menjadi salah satu penyebab gejala Corona kemudian menjadi parah.

"Virus ini tidak biasa dan sulit untuk tidak mengambil langkah mundur dan tidak terkesan oleh berapa banyak manifestasinya pada tubuh manusia," jelas Dr Mahesh Madhavan, sesama ahli kardiologi yang bekerja pada tinjauan tersebut, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Efek pembekuan darah tampaknya disebabkan oleh beberapa mekanisme yang berbeda termasuk kerusakan langsung sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan gangguan dengan berbagai mekanisme pembekuan dalam darah itu sendiri. Oksigen dalam darah yang rendah juga disebabkan oleh pneumonia. Hal ini dapat membuat darah lebih mungkin membeku, kata para peneliti.

Selanjutnya
Halaman
1 2