Rabu, 15 Jul 2020 17:03 WIB

Rekor 1 Juta Warga Inggris Setop Merokok Selama Pandemi Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Negara Bagian Jerman Ajukan Larangan Merokok dalam Kendaraan Berisi Ibu Hamil dan Anak di Bawah Umur 1 juta warga Inggris setop merokok selama pandemi Corona. (Foto: DW (News)
Jakarta -

Sebuah survei menunjukkan lebih dari satu juta orang berhenti merokok sejak pandemi virus Corona COVID-19 melanda. Survei Action on Smoking and Health (Ash) menyebut 41 persen di antara mereka berhenti merokok berkaitan dengan pandemi Corona.

Secara terpisah, University College London (UCL) menemukan lebih banyak orang berhenti merokok tahun ini, data tersebut dikumpulkan hingga Juni 2020. Tertinggi dibandingkan tahun mana pun sejak survei dimulai pada 2007 silam. Sebelumnya pemerintah Inggris mengatakan perokok mungkin berisiko mengalami gejala virus Corona COVID-19 yang lebih parah.

Dikutip dari BBC, survei yang disebar dari 15 April hingga 20 Juni mewakili 10 ribu orang yang terdaftar di YouGov atas nama Ash. Mereka ditanya soal kebiasaan merokok. Hasilnya untuk memperkirakan jumlah orang yang berhenti merokok di Inggris.

Sebagian besar berhenti merokok terkait dengan pandemi Corona seperti memperhatikan masalah kesehatan, akses membeli rokok yang sulit karena sedang isolasi diri, dan juga berkurangnya kegiatan sosial. Sebuah tim di University College London mensurvei seribu orang dalam 1 bulan di Inggris soal kebiasaan merokok mereka sejak 2007.

Hingga Juni 2020, 7,6 persen perokok yang ikut serta dalam survei menyatakan berhenti merokok, hampir sepertiga lebih tinggi dari rata-rata dan proporsi tertinggi sejak survei dimulai lebih dari satu dekade lalu.

"Lebih dari satu juta perokok mungkin telah berhasil menghentikan kebiasaan merokok sejak COVID-19 menghantam Inggris, tetapi jutaan orang lainnya terus merokok," kata peneliti.

Apa risiko perokok terhadap virus Corona?

Data dari aplikasi 'Zoe Covid Symptom Tracker' menyebut perokok 14 persen lebih mungkin terpapar Corona daripada bukan perokok. Tiga gejala infeksi virus Corona seperti demam, batuk terus-menerus, dan sesak napas membuat perokok lebih berisiko alami kondisi serius karena Corona.

Aplikasi yang dibuat oleh para peneliti di rumah sakit Guy dan St Thomas dan King's College London menganalisis data dari lebih dari 2,4 juta peserta di Inggris. Analisis mereka menemukan perokok yang dinyatakan positif COVID-19 dua kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit daripada mereka yang dinyatakan positif Corona tetapi tidak merokok.

Hal ini sejalan dengan penelitian dari AS yang menemukan perokok dirawat di rumah sakit dan positif Corona disebut 1,8 kali lebih mungkin meninggal. Namun, ada juga beberapa penelitian dari seluruh dunia menyatakan merokok sebenarnya memiliki efek perlindungan terhadap virus Corona.

Ini didasarkan pada kelompok pasien rumah sakit di mana perokok tampaknya kurang terwakili, dibandingkan dengan jumlah mereka dalam populasi yang lebih luas. Kesimpulannya, hal tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya.

Dr Jamie Hartmann-Boyce, dari Universitas Oxford, mengatakan ada penjelasan 'masuk akal secara biologis' bahwa nikotin dapat menghalangi reseptor yang sama yang digunakan oleh virus untuk masuk ke dalam sel seseorang. Namun, ia menyebut 'signifikansi klinis' dari studi ini sepenuhnya tidak jelas.

"Ini tidak konsisten di seluruh studi dan tidak jelas apakah data dari studi ini dapat diandalkan," kata Jamie.

"Ada bukti kuat bahwa merokok umumnya dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi virus pernapasan. Merokok menyebabkan kerusakan pada paru-paru dan saluran udara dan merusak sistem kekebalan tubuh, mengurangi kemampuan Anda untuk melawan infeksi," tulis pedoman kesehatan Inggris.



Simak Video "Brasil Mulai Uji Coba Vaksin COVID-19 Inggris untuk 2 Ribu Partisipan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)