Kamis, 16 Jul 2020 11:15 WIB

Bikin Geram! Ini Alasan Psikologis Seorang Wanita Tega Jadi Pelakor

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Unfaithful young man in a cafe. He is embracing his girlfriend and making call gesture to another woman behind her back. Ilustrasi perselingkuhan. (Foto: iStock)
Jakarta -

Perselingkuhan yang diwarnai dengan hadirnya orang ketiga atau kini disebut dengan istilah pelakor (perebut laki orang) menjadi ramai diperbincangkan di lini masa. Bahkan kini banyak yang tak segan dan mengakui dirinya sebagai 'pelakor'.

Ada beberapa alasan seseorang tega menjadi perebut laki orang. Menurut psikolog klinis Stephanie Newman PhD, berhubungan dengan pria yang sudah menikah oleh sebagian orang dirasa lebih menantang. Ada sensasi yang didapatkan seseorang saat menjalani 'hubungan rahasia' dengan pria beristri.

"Ada juga wanita super kompetitif yang membutuhkan kompetensi. Berhubungan dengan suami orang meningkatkan rasa percaya dirinya. Semakin 'panas' saingannya, semakin dia merasa lebih superior dibanding sang istri," jelas Newman dikutip dari Pshycology Today.

Selain itu, psikolog dari Tiga Genarasi, Sri Juwita Kusumawardhani MPsi, mengatakan alasan lain seseorang tega menjadi perebut suami orang lantaran kontrol diri mereka yang amat rendah sehingga tak lagi memahami norma.

"Istilahnya kayak nggak punya perasaan kan. Berarti empatinya itu nggak terlatih. Jadi dia nggak bisa menempatkan diri kalau saya atau ibu saya yang mengalami hal itu," tutur Wita, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Meski demikian perlu diingat bahwa masih banyak wanita yang berpikiran waras dan tidak ingin melakukan hubungan perselingkuhan. Semua kembali pada yang 'digoda' dan pelakor itu sendiri.

Perselingkuhan butuh dua pihak untuk bisa terjadi. Pria ikut andil, karena secara sadar memutuskan untuk menjalin hubungan terlarang.



Simak Video "Apa Sih Quarter Life Crisis?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)