Kamis, 16 Jul 2020 22:33 WIB

Pelawak Omas Meninggal, Ini Gejala Diabetes yang Sering Diabaikan

Ayunda Septiani - detikHealth
Omaswati Omas meninggal dunia. (Foto: Dok. YouTube Trans TV)
Jakarta -

Berita duka kembali datang dari hiburan Tanah Air. Pelawak asal Betawi, Omas, meninggal dunia pada Kamis (16/7/2020). Keponakan Omas, Ernie, menyebut Omas memiliki riwayat diabetes atau penyakit gula sebelum meninggal.

"Iya penyakit gula," tutur Ernie.

Saat terserang diabetes atau kadar gula darah tiba-tiba melonjak, tubuh sebetulnya sudah memberi banyak tanda. Sayangnya tanda ini kerap tidak disadari, ditambah juga dengan penerapan pola hidup yang tidak baik, mengakibatkan terjadinya diabetes.

"Dengan kondisi ini, mereka yang punya faktor risiko sebaiknya segera memeriksakan diri. Misal yang keluarganya mengalami diabetes atau kelebihan berat badan. Pemeriksaan teratur memungkinkan diabetes cepat diketahui, segera tertangani, dan mencegah komplikasi," kata peneliti Aaron Cypess, MD, PhD, dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases at the National Institutes of Health.

Dikutip dari laman The Health, berikut 5 gejala diabetes yang kerap tidak disadari dan wajib untuk diwaspadai. Apa saja?

1. Kurus secara tiba-tiba

Obesitas atau kelebihan berat badan ternyata bukan satu-satunya yang menandai seseorang diabetes. Menjadi kurus tiba-tiba ternyata juga bisa menandai serangan salah satu penyakit tidak menular ini.

"Kehilangan berat badan terjadi karena dua hal. Yaitu dari air yang keluar saat seseorang berkemih dan saat kehilangan kalori melalui urine. Kondisi ini terjadi pada tubuh yang tidak bisa menyerap kalori dari gula dalam darah," kata Dr Cypess.

2. Penglihatan buram atau tidak jelas

Pasien diabetes ada yang mengalami diabetes retinopati yang ditandai pandangan yang kabur. Kondisi yang terjadi akibat tekanan yang terlalu tinggi pada bola mata, biasanya tidak terjadi pada pemeriksaan pertama. Pandangan kabur juga bisa terjadi saat pengobatan diabetes dimulai.

"Gula darah yang kembali ke level normal biasanya mengakibatkan pandangan buram. Hal ini diakibatkan penyesuaian lensa mata dengan kadar gula dalam tubuh. Biasanya setelah 6-8 minggu saat gula darah stabil, pandangan tidak lagi buram," kata Dr Cypess.

3. Mudah luka

Dengan kadar gula yang terlalu tinggi, sistem imun dan proses yang membantu proses penyembuhan luka tidak bekerja dengan baik. Kondisi hiperglikemia mengurangi aliran darah dan merubah tingkat keasaman darah yang merusak sel imun.

"Semua komponen dalam sel imun tidak bekerja dengan baik saat kadar gula terlalu tinggi. Hal ini berisiko merusak sel saraf yang mengakibatkan luka dan infeksi," ujar Dr Cypess.

4. Mati rasa

Kenaikan gula darah mengakibatkan komplikasi sebelum menyadari kondisi tersebut sebagai diabetes. Salah satu tanda yang kerap tidak disadari adalah sensasi mati rasa akibat kerusakan saraf neuropathy.

Riset membuktikan, sekitar 50 persen pasien diabetes mengalami kerusakan saraf tepi. Kondisi ini biasanya mempengaruhi fungsi saraf di kaki dan tangan.

5. Mudah terinfeksi oleh jamur dan bakteri

Tingginya kadar gula dalam urine menjadi makanan bagi jamur dan bakteri. Tidak heran jika jamur dan bakteri tumbuh subur serta lebih berpeluang mengakibatkan infeksi pada pasien diabetes.

Riset yang dilakukan pada 2015 dipublikasikan di Journal of Diabetes Complications membuktikan, pasien diabetes berisiko lebih besar mengalami infeksi saluran kemih di banding yang tidak sakit. Pasien diabetes juga berisiko mengalami infeksi berulang.



Simak Video "Penyandang Diabetes Tetap Aman Pergi ke RS saat Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)