Senin, 20 Jul 2020 19:02 WIB

Sempat Viral Sleeping Beauty Syndrome, Apakah Gangguan ini Bisa Sembuh?

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi anak tidur Sempat Viral Sleeping Beauty Syndrome, Apakah Gangguan ini Bisa Sembuh? (Foto: iStock)
Jakarta -

Di Twitter sempat ramai seorang bayi di Pamekasan, Madura yang dikatakan telah tidur selama hampir satu tahun. Sebelumnya pada 2017, seorang bocah asal Kalimantan Selatan juga bikin heboh karena telah tidur 10 hari 10 malam.

Dalam dunia medis, tidur dalam jangka waktu lama adalah ciri Kleine-Levin Syndrome (KLS) atau dikenal dengan sleeping beauty syndrome. Dikutip dari situs Kleine-Levin Syndrome Foundation, kondisi ini merupakan gangguan saraf yang kompleks dan jarang terjadi.

"Sleeping beauty syndrome atau KLS ditandai periode berulang jumlah tidur berlebihan, perilaku yang berubah, dan berkurangnya pemahaman tentang dunia sekitar. Gangguan ini utamanya menyerang remaja namun bisa juga terjadi pada anak-anak dan dewasa muda," tulis situs tersebut dilihat detikcom pada Senin (20/7/2020).

Saat sleeping beauty syndrome melanda, pasien menjadi makin ngantuk dan tidur hampir sepanjang malam (hypersomnolence). Akibatnya semua aktivitas normal berhenti dan pasien kadang hanya bangun untuk makan atau pergi ke kamar mandi. Datangnya sindrom ini bisa berlangsung selama beberapa hari, minggu, atau bulan.

Dikutip dari situs National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), tidak ada pengobatan pasti untuk sleeping beauty syndrome. Keluarga pasien biasanya lebih disarankan melakukan pengawasan penuh di rumah dibanding pemberian obat.

Dalam beberapa kasus biasanya diresepkan obat yang bersifat stimulan misal amphetamines, methylphenidate, dan modafinil. Obat-obatan ini memang membantu mengendalikan rasa kantuk, namun tidak mengatasi efek buruk yang muncul pada gangguan kognitif atau mood.

Dikutip dari Healthline, sleeping beauty syndrome bisa berlangsung hingga lebih dari 10 tahun. Durasi yang sangat lama mengindikasikan dampak buruk yang bisa dialami seorang pasien karena tidak bisa beraktivitas seperti orang kebanyakan.

Karena itu, sangat disarankan bagi seseorang untuk tanggap segera ke dokter jika mendapati ada yang tidur berlebihan. Untuk mengetahui risiko mengalami sleeping beauty syndrome bisa juga menggunakan KLS Checker yang tersedia di situs KLS Foundation.

"KLS Checker hanya bersifat memberi informasi tidak bertujuan menggantikan diagnosis yang dilakukan tenaga medis profesional," tulis KLS Foundation.

Jika risiko besar sangat disarankan segera berkonsultasi ke dokter. Konsultasi memungkinkan untuk mengambil langkah yang tepat mengantisipasi datangnya sleeping beauty syndrome.



Simak Video "Keresahan Dokter Perihal Thermo Gun yang Ditembak di Tangan "
[Gambas:Video 20detik]
(row/pal)