Selasa, 21 Jul 2020 14:02 WIB

Berbentuk Inhaler, Obat Corona Inhaler Ini Diklaim Efektif hingga 79 Persen

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Asma dan inhaler Ilustrasi inhaler. (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Hasil uji coba obat virus Corona yang menggunakan inhaler disebut efektif kurangi risiko alami kondisi parah hingga 79 persen. Para ilmuwan menyebut pasien yang menerima pengobatan melalui inhaler sebagai bagian dari penelitian, ditemukan dua kali lebih mungkin pulih dari Corona.

Obat yang diberikan dalam bentuk inhaler ini dinamakan SNG001, dikembangkan oleh perusahaan farmasi Synairgen. Obat yang diberinama SNG001 ini berbasis interferon beta, sebuah protein yang diproduksi secara alami dalam tubuh, yang memainkan peran penting dalam mengkoordinasikan respons antivirus. Studi sebelumnya menemukan obat ini efektif meningkatkan fungsi paru-paru.

"Penurunan 79 persen dalam keparahan penyakit bisa menjadi game changer," kata Prof Naveed Sattar University of Glasgow, dikutip dari The Sun.

Hasil dan analisis studi terhadap obat ini menemukan bahwa kemungkinan pasien yang membutuhkan ventilator atau mengembangkan kasus penyakit parah hingga kematian selama periode pengobatan 16 hari, berkurang sebesar 79 persen untuk pasien yang menerima obat melalui inhaler dibandingkan dengan pasien yang menerima pengobatan biasa.

Selama periode pengobatan, kondisi sesak napas sangat berkurang pada pasien yang menerima SNG001. Synairgen sementara menyebut tidak ada kematian di antara mereka yang menerima obat inhaler Corona.

Pada pasien dengan penyakit yang lebih parah saat dirawat, pengobatan SNG001 meningkatkan kemungkinan keluar rumah sakit lebih cepat selama penelitian. Tetapi para peneliti mengatakan perbedaannya tidak signifikan secara statistik. Profesor Tom Wilkinson, profesor kedokteran pernapasan di University of Southampton dan ketua peneliti, mengatakan ia senang dengan data positif yang dihasilkan dari uji coba ini.

"Hasil ini mengkonfirmasi keyakinan kami bahwa obat inhaler telah disetujui untuk digunakan dalam sejumlah indikasi lain, memiliki potensi besar sebagai obat yang dihirup untuk dapat mengembalikan kekebalan paru-paru, respons, meningkatkan perlindungan, mempercepat pemulihan dan melawan dampak virus SARS-CoV-2," kata Tom.

Inhaler dikembangkan pada bulan Mei dan 120 inhaler dikirim ke pasien COVID-19 untuk diuji coba di rumah. Profesor Stephen Holgate, profesor klinis Medical Immunopharmacology di University of Southampton dan salah satu pendiri Synairgen menambahkan bahwa perawatan ini mengembalikan kemampuan paru-paru untuk menetralkan virus.

"Atau mutasi virus atau koinfeksi dengan virus pernapasan lain seperti influenza atau RSV, seperti yang bisa ditemui di musim dingin jika ada kebangkitan COVID-19," kata para peneliti.

Para ahli mengatakan mereka terkesan dengan hasilnya tetapi mengingatkan bahwa sampel uji lebih dari 100 pasien relatif kecil.

"Akan bagus untuk melihat hasil lengkap yang pernah dipresentasikan dan ditinjau oleh rekan sejawat untuk memastikan hasilnya kuat dan uji coba dilakukan dengan ketat," jelas Tom.

"Juga, dengan jumlah kecil datang kepastian yang kurang pada tingkat manfaat yang sebenarnya, atau apakah manfaat bervariasi antara orang-orang dengan karakteristik risiko yang berbeda. Pekerjaan seperti itu akan membutuhkan uji coba yang lebih besar tetapi, meskipun demikian, hasil ini sangat menarik," sebut Tom.



Simak Video "Ahli Buktikan Remdesivir Percepat Kesembuhan Pasien Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)