Kamis, 23 Jul 2020 10:43 WIB

Hasil Uji Dexamethasone untuk Obat Corona Menjanjikan, Tapi...

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Peneliti di Inggris menyatakan ujicoba pengobatan COVID-19 menggunakan dexamethasone menunjukkan keberhasilan dalam menyelamatkan nyawa pasien. Dexamethasone, obat steroid yang digunakan untuk menyembuhkan pasien gawat COVID-19. (Foto: Getty Images/Matthew Horwood)
Jakarta -

Hasil uji coba dexamethasone, obat steroid yang digunakan untuk mengobati pasien Corona, yang diterbitkan pada Jumat (17/7), membuktikan obat tersebut menjanjikan dan bermanfaat untuk menyelamatkan nyawa pasien COVID-19.

Meski demikian penelitian juga memperlihatkan bahwa penggunaan dexamethasone bisa berbahaya jika diresepkan terlalu dini.

Dalam studi tersebut sebanyak 2.104 pasien di rumah sakit diberi enam miligram dosis dexamethasone setiap hari selama 10 hari, dan 4.321 menerima perawatan biasa, kemudian tingkat kematian dibandingkan setelah 28 hari.

Di antara pasien yang menggunakan ventilator, tingkat kematian untuk pasien yang menggunakan dexamethasone adalah 29,3 persen dibandingkan dengan 41,4 persen pada mereka yang tidak menggunakan obat tersebut.

Dengan kata lain, kelompok ini mengalami penurunan angka kematian 29 persen, hanya di bawah sepertiga.

Pada pasien yang diberikan terapi oksigen namun dengan cara yang kurang invasif, manfaat dexamethasone bahkan lebih kecil, 23,3 persen meninggal dibandingkan 26,2 yang tidak menggunakannya.

Hanya saja, tidak ditemukan manfaat di antara kelompok yang tidak menerima oksinegasi pada saat percobaan di mulai. Dalam kohort ini, 17,4 persen dari pengguna steroid meninggal dibandingkan dengan 14 persen yang tidak menerimanya, yang menunjukkan bahwa obat meningkatkan risiko kematian mereka.

Alasannya adalah obat ini bekerja dengan menekan respon imun abnormal yang merusak organ tubuh daripada bekerja melawan virus.

Mengutip South China Morning Post, para penulis penelitian yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, menambahkan bahwa manfaat dari obat "tergantung pada pemilihan dosis yang tepat, pada waktu yang tepat, pada pasien yang tepat".

Mereka menambahkan bahwa, sejauh menyangkut penyakit COVID-19, untuk pasien yang membutuhkan oksigen, respons imun abnormal tampaknya lebih bertanggung jawab atas kerusakan pada tubuh daripada replikasi virus dalam tubuh.

National Institutes of Health juga memperingatkan bahwa belum diketahui seberapa baik dexamethasone dapat bekerja dalam kombinasi dengan obat anti-viral remdesivir.

Sebelumnya pakar penyakit menular Amerika Serikat, Anthony Fauci, memperingatkan dexamethasone tidak boleh diresepkan terlalu cepat setelah seseorang terinfeksi.

"Itu tidak berpengaruh, jika tidak, mungkin bahkan anjuran untuk memperburuk keadaan sejak dini," katanya dalam wawancara dengan AFP.



Simak Video "Peneliti Ungkap Dexamethasone Manjur untuk Pasien Corona Sakit Parah"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)