Selasa, 28 Jul 2020 13:02 WIB

Masih Ada yang Tolak Vaksin karena Haram, Kemenkes Angkat Bicara

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Pelaksanaan Vaksinasi Difteri

Petugas dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta melakukan Vaksinasi Difteri di SMK Yosua, Jakarta, Senin (11/12/2017). Hingga November 2017, sudah ada 11 provinsi yang melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat difteri. Grandyos Zafna/detikcom Ilustrasi vaksinasi. (Foto: Grandyos Zafna/detikHealth)
Jakarta -

Imunisasi rutin lengkap juga jadi cara meningkatkan kualitas kesehatan anak. Sayangnya di Indonesia, masih banyak anggapan soal vaksin haram sehingga orang tua enggan mengimunisasi anaknya.

"Ini menjadi isu kita sejak lama," ungkap Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr Achmad Yurianto, dalam agenda Hari Hepatitis Sedunia 2020 yang disiarkan di Youtube Kemenkes RI, Selasa (28/7/2020).

"Saya yakin beberapa pakar dari para alim ulama, dari MUI, sudah menyatakan bahwa vaksin adalah upaya yang lebih banyak menuju ke manfaat daripada kemudharatan," sambungnya.

Disebutkan oleh dr Yuri, arahan dari MUI juga telah menyatakan bahwa vaksin tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang haram. Terlebih beberapa negara di Timur Tengah, yang mayoritas penduduknya juga beragama muslim, juga melakukan vaksinasi.

"Saya berharap kita harus banyak berkomunikasi dengan pemuka agama di masyarakat agar bisa meyakinkan bahwa ini adalah sesuatu yang bisa kita gunakan. Yakinlah ini bahwa niatan kita dalam melindungi masyarakat," jelas dr Yuri.

"Tidak lagi kita menganggap bahwa permasalahan vaksin ini dalam perspektif halal/haram saja tapi dalam perspektif lebih besar," pungkasnya.

Adapun imunisasi rutin yang dilakukan di Indonesia antara lain imunisasi Hepatitis B, imunisasi Polio, imunisasi BCG atau TB, imunisasi campak, dan imunisasi MR/MMR atau campak dan rubella.



Simak Video "Uji Vaksin Corona Sinovac: 90% Lebih Hasilkan Antibodi "
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)