Kamis, 30 Jul 2020 09:25 WIB

Wawancara Eksklusif

Buka-bukaan Menristek RI Soal Vaksin Merah-Putih, Target hingga Kehalalan

Yudha Maulana - detikHealth
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro (Foto: Siti Fatimah/detikHealth)
Bandung -

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro memastikan saat ini, Indonesia tengah membuat Vaksin Merah Putih yang menjadi harapan baru dalam menangkal wabah virus Corona.

Bagaimana perkembangan terakhir dan kehalalan vaksin buatan dalam negeri tersebut? Berikut petikan wawancara ekslusif detikcom dengan Bambang di Kampus LIPI Bandung, Rabu (30/7/2020).

Latar belakang Vaksin Merah Putih?

Untuk mengembangkan vaksin itu kita harus mengenal karakter virusnya, jadi kemudian kita harus mencari cara untuk bisa mengalahkan virus tersebut. Untuk pengembangan itu virus yang bertransmisi di Indonesia dan Lembaga Eijkman sudah melakukan analisa karakter dari virusnya, dengan whole genom sequencing, sudah mulai kelihatan karakter virus Indonesia itu jadi bibit vaksin kita. Kalau dari luar otomatis akan bergantung kepada bibit vaksin yang ada di mereka, tentu kita berharap vaksin nanti ditemukan itu seperti vaksin polio atau vaksin cacar.

Vaksin bisa dipakai di dunia dan bisa dipakai seumur hidup, siapapun kamu orangnya, dampaknya sama, kamu tidak akan kena cacar seumur hidup, tapi vaksin di dunia yang ada tidak seperti itu. Beruntung kalau bisa dapat itu, tapi ada juga vaksin flu, covid kan mirip flu. Vaksin flu itu dia bisa efektif bagi banyak orang tapi tergantung daerah, dan tiap dua tahun harus ganti, artinya vaksinisasi harus dua kali.

Kapan target selesai?

Ditargetkan akhir tahun ini kita ujicobakan kepada hewan, dan bisa digunakan pada manusia pertengahan tahun 2021 nanti. Vaksin untuk suatu penyakit paru-paru ada yang sifatnya unik karena dia beda satu wilayah dengan wilayah yang lainnya, tergantung karakter virusnya. Misalnya kita belum tahun COVID-19 ini akan masuk kemana. Kita mencari yang terbaik, secepatnya dan seefektif mungkin. Kalau kita prinsipnya vaksinnya cepat itu penting, efektif penting dan ketiga harus mandiri. Sama dengan yang tadi kita harus vaksin 267 juta orang, ambil contoh satu haru satu juta vaksinasi perhari, artinya kita butuh 267 hari. Ini pekerjaan yang berat, dari segi SDM juga.

Progres terakhir?

Progres kalau dari presentase 20-30 persen itu berproses saat ini, mereka (Lembaga Molekuler Eijkman) sedang istilahnya sedang mengampilifikasi protein S dan N, dari situ mereka kloning, harapannya mereka nanti istilahnya bibit vaksin mulai dimasukkan ke protein tersebut supaya muncul antivirusnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2