Selasa, 04 Agu 2020 08:03 WIB

Sleman Anggarkan Rp 750 Juta Beli Alat Uji Spesimen Corona, Agustus Siap Pakai

Jauh Hari Wawan S - detikHealth
Puskesmas Kecamatan Gambir aktif melakukan tes swab mencari orang tanpa gejala yang terinfeksi COVID-19. Mereka menyasar petugas PPSU dan para pedagang pasar. Tes swab virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Sleman -

Pemkab Sleman dikabarkan membeli alat penguji spesimen swab. Targetnya pada pertengah Agustus, alat itu sudah sampai ke Sleman dan siap digunakan.

"Kami akan mengusahakan membeli alat untuk membaca swab. Nanti begitu kita punya alat itu pagi swab, siang atau sore bisa keluar hasilnya," kata Bupati Sleman, Sri Purnomo saat ditemui di Pendopo Parasamya, Pemkab Sleman, Senin (3/8/2020).

Menurutnya, dengan memiliki alat sendiri penanganan COVID-19 di Sleman akan lebih cepat. Termasuk nantinya jika ditemukan kasus konfirmasi positif, Pemkab cepat mengambil kebijakan.

"Sehingga, kita nanti bisa penanganannya lebih cepat. Kita akan beli sendiri dari Kabupaten Sleman," terangnya.

Diwawancarai di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo mengatakan alat yang dibeli hanya satu unit. Hal itu mengingat investasi untuk pembelian alat cukup mahal.

"Hanya satu alat untuk pemeriksaan sampel swab harganya Rp 750 juta," kata Joko.

Dia menjelaskan pertimbangan untuk membeli alat ini lantaran selama ini untuk uji spesimen masih bergantung di lab yang ada di DIY. Namun, kapasitas lab beberapa waktu ini penuh.

"Karena kita tergantung di lab lain dan itu sampelnya menumpuk sehingga ada keterlambatan hasil. Keterlambatan lab untuk mengeluarkan hasil itu bisa mencapai seminggu hingga sepuluh hari," terangnya.

Joko mencontohkan seperti peningkatan kasus positif Corona di Sleman beberapa waktu yang lalu merupakan hasil dari swab yang dilakukan sepuluh hari sebelumnya.

"Jadi misalnya kemarin ada peningkatan tinggi itu kasus bukan di tanggal itu tapi di 10 hari sebelumnya. Kalau baru diketahui 10 hari setelahnya kan terjadi penularan kemana-mana, itu kan repot," jelasnya.

Idealnya, kata dia, hasil swab bisa keluar dalam waktu sehari. Sehingga jika terjadi peningkatan kasus, pemerintah bisa cepat mengambil kebijakan.

"Lab itu idealnya satu hari hasilnya sehingga kalau ada yang positif langsung di tutup jangan sampai menular," tambahnya.

Dia berharap pada pertengahan Agustus alat itu sudah bisa turun. Nantinya, Dinkes bisa melakukan uji sampel swab secara mandiri di Labkesda milik Dinkes Sleman.

"Kapasitasnya 200 sampel perhari. Nanti ditempatkan di Labkesda Sleman. Mudah-mudahan alatnya di pertengahan Agustus sudah turun," tutupnya.



Simak Video "Virus Corona Bisa Serang Usus Meski Pernapasan Negatif Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)