Rabu, 12 Agu 2020 19:30 WIB

Muncul Wacana Rapid Test Dihapus, PCR Paling Akurat Deteksi COVID-19?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Layanan rapid test dengan biaya Rp 85 ribu mulai hari ini telah tersedia di sejumlah stasiun Indonesia. Salah satunya Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Rapid test. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan tengah mengkaji menghapus syarat wajib rapid test dan PCR (swab) bagi calon penumpang pesawat. Dikutip dari CNN Indonesia, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Novie Riyanto mengaku tengah membahas kemungkinan penghapusan wajib rapid atau swab test untuk calon penumpang transportasi udara dengan Gugus Tugas dan Satuan Tugas (Satgas) COVID-19.

Rapid test sendiri selama ini diketahui sebagai syarat seseorang melakukan perjalanan. Namun, tidak sedikit sejumlah pihak yang mendesak untuk mengkaji ulang penggunaan rapid test.

"Dengan adanya ini justru kita pertanyakan apakah masih relevan melakukan test antibodi ini sebagai syarat bepergian bagi penumpang pesawat udara, kereta api, maupun kapal. Karena sebenarnya rapid test ini tidak ada gunanya untuk mencegah penularan COVID-19," kata Anggota Ombudsman Alvin Lie kepada wartawan, Rabu (8/7/2020).

Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik pun sempat mendesak pemerintah untuk tidak lagi menggunakan rapid test. Sebenarnya apa bedanya rapid test dengan PCR?

Direktur utama GSI Lab dr Nino Susanto, menjelaskan hingga saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan tes polymerase chain reaction (PCR) sebagai satu-satunya alat yang disarankan untuk mendeteksi kasus virus Corona COVID-19 aktif. Lalu memang apa bedanya tes PCR dengan rapid test?

"Rapid test itu kebanyakan yang beredar di masyarakat adakah rapid test antibodi, bahwa antibodi itu adalah bentuk reaksi tubuh terhadap infeksi tertentu artinya iantibodi ini muncul di kemudian hari, merupakan indikator awal dari sebuah infeksi," jelas dr Nino dalam acara peresmian GSI Lab, Rabu (12/8/2020).

"Untuk penegakan infeksi aktif, aktif saat ini, pada dasarnya dunia, atau World Health Organization (WHO) hanya menyarankan PCR sebagai satu-satunya standar baku emas untuk mendiagnosis COVID-19," kata dr Nino.

Oleh sebab itu, akurasi PCR dapat dipastikan lebih tinggi. Bahkan dr Nino menilai hampir mencapai 100 persen.

"Artinya akurasi yang dapat dilakukan PCR dalam mendeteksi COVID-19 mencapai 98 persen," sebut dr Nino.

Namun apakah tes PCR tetap memiliki kemungkinan menunjukkan hasil yang salah?

"Dengan metode yang baik, dengan dikerjakan staf yang berpengalaman, standar lab yang baik seharusnya tidak (ada kesalahan)," pungkasnya.



Simak Video "Kabar Baik! Ridwan Kamil: Kit Rapid Test Buatan Jabar Capai Akurasi 80%"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)