Rabu, 19 Agu 2020 17:02 WIB

Soal Uji Klinis Obat Corona, Efek Samping Tak Jadi Pertimbangan Utama

Ayunda Septiani - detikHealth
ilustrasi obat Foto: iStock
Jakarta -

Bagi orang awam, pertimbangan utama dalam memilih suatu obat adalah bagaimana efek sampingnya. Sedangkan dalam uji klinis, efek samping bukan satu-satunya faktor yang menentukan.

Prof Rianto Setiabudi, SpFK (K), anggota KOMNAS Penilai Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), menjelaskan pertimbangan terkait uji klinis suatu obat tidak sebatas efek samping. Adanya efek samping obat tidak lantas membuat obat ditolak.

Hal ini dikarenakan pertimbangan risk and benefit, yakni rasio antara risiko dan manfaat. Ia mengambil contoh dalam efek samping dari obat kanker.

Prof Rianto menjelaskan, obat anti kanker itu adalah kelompok obat dengan efek samping yang dahsyat, sering kali efek sampingnya rambut rontok, tidak ingin makan, dan luka di mana-mana.

"Obat itu bisa memperpanjang hidup orang sekian bulan atau sekian tahun. Jadi mohon dimengerti efek samping yang ada itu tidak merupakan satu-satunya pertimbangan," jelas anggota KOMNAS Penilai Obat, Prof Rianto Setiabudi, SpFK (K), dalam konferensi pers di channel YouTube BPOM, Rabu (19/8/2020).

"Sering kali efek samping bisa dikurangi dengan memodifikasi dosis, misalnya mengatasi dosisnya atau cara pemberiannya diberikan sesudah makan," tambah Prof Rianto.



Simak Video "Mengenal Remdesivir, Obat Corona yang Disetujui BPOM RI "
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)