Rabu, 26 Agu 2020 17:33 WIB

Happy Hypoxia pada Pasien COVID-19: Gejala, Penyebab, dan Pengertian

Rosmha Widiyani - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal/Happy Hypoxia pada Pasien COVID-19: Gejala, Penyebab, dan Pengertian
Jakarta -

Riset terkait COVID-19 menunjukkan kondisi yang disebut happy hypoxia atau silent hypoxemia pada pasien. Pengertian happy hypoxia adalah kondisi yang mengancam nyawa akibat kadar oksigen yang sangat rendah, namun pasien tidak menunjukkan kesulitan bernapas atau dyspnea.

Menurut Martin J Tobin seorang profesor dari Loyola University Chicago Stritch School of Medicine, happy hypoxia sangat membingungkan dokter karena bertentangan dengan biologi dasar. Tulisan dan riset Dr Tobin berjudul Why COVID-19 Silent Hypoxemia is Baffling to Physicians dipublikasikan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.

"Dalam beberapa kasus, pasien merasa nyaman dan menggunakan telepon saat dokter hendak memasukkan selang pernapasan (endotracheal) dan menghubungkannya dengan ventilator mekanis. Tahap ini bisa menyelamatkan nyawa pasien meski punya risikonya sendiri," kata Dr Tobin yang merupakan pimpinan dalam riset terkait happy hypoxia dikutip dari ScienceDaily.

Riset melibatkan 16 pasien dengan kadar oksigen sangat rendah hingga 50 persen tanpa sesak napas. Tingkat saturasi oksigen normal dalam darah adalah 95-100 persen. Level kadar oksigen dalam tubuh diperiksa lebih dulu dengan pulse oximeter, hasilnya semua kasus pasien terkait dengan happy hypoxia atau silent hypoxemia.

Studi juga mendapati lebih dari separuh pasien memiliki kadar kanbondioksida yang rendah di dalam tubuhnya. Hal inilah yang mungkin mengurangi dampak kadar oksigen yang sangat rendah pada pasien. Selain itu, riset mengetahui bagaimana otak merespon kadar oksigen yang rendah dalam tubuh.

"Tingkat oksigen pada pasien COVID-19 terus menurun hingga mendapat penanganan medis. Seiring level oksigen yang makin turun, otak tidak juga merespon hingga benar-benar rendah. Pada kondisi tersebut biasanya pasien mengalami sesak napas," kata Dr Tobin.

Menurut Dr Tobin diperlukan riset lebih lanjut terkait happy hypoxia pada pasien COVID-19. Sebelum happy hypoxia, virus corona diketahui mempengaruhi fungsi penciuman pada manusia. Seperti pada penurunan fungsi kemampuan mengenali aroma, mekanisme serupa mungkin terjadi pada penurunan kadar oksigen pada tubuh.

"Mungkin virus corona melakukan tindakan aneh terkait bagaimana tubuh merasakan kadar oksigen dalam tubuh yang makin rendah," ujar Dr Tobin.

Dr Tobin berharap, riset ini menjadi sumber informasi baru terkait penanganan pasien COVID-19. Dokter selanjutnya bisa melakukan pemeriksaan lebih detail dan melakukan hal yang dianggap perlu serta penting bagi keselamatan pasien.

Dikutip dari Today, hingga saat ini belum ada karakter atau kriteria khusus untuk menandai seseorang berisiko lebih tinggi terkena happy hypoxia. Dokter ahli paru intervensi Dr Udit Chaddha mengatakan, happy hypoxia hanya bisa diketahui dengan pemeriksaan kadar oksigen dalam tubuh menggunakan pulse oximeter.

Dr Chaddha mengingatkan, happy hypoxia bukan kondisi yang mengakibatkan panik atau khawatir. Namun masyarakat umum wajib waspada dengan meningkatkan upaya pencegahan COVID-19. Kondisi kesehatan bisa menurun dengan memperlihatkan sedikit tanda atau tidak sama sekali.



Simak Video "Yang Harus Dilakukan Jika Tak Bisa Cium Bau Seperti Gejala Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(row/pal)