Kamis, 27 Agu 2020 09:44 WIB

Pertama Kalinya, Pasien HIV 'Sembuh' Tanpa Cangkok Sumsum Tulang

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
HIV - sexually transmitted disease blood test and treatment Ilustrasi HIV. (Foto: iStock)
Jakarta -

Seorang wanita yang terinfeksi HIV pada 1992 silam kemungkinan menjadi orang pertama yang sembuh dari virus tanpa perawatan medis seperti transplantasi sumsum tulang khusus. Bahkan tidak mengonsumsi obat-obatan, demikian ungkap para peneliti.

Dikutip dari The New York Times, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature, menguraikan mekanisme baru di mana tubuh dapat menekan HIV, ditemukan ada kemajuan dalam genetika. Penelitian ini juga menawarkan harapan bahwa sejumlah kecil orang yang terinfeksi HIV dan memakai terapi antiretroviral selama bertahun-tahun juga dapat menekan virus dan berhenti memakai obat, yang dapat berdampak buruk pada tubuh.

"Itu menunjukkan bahwa pengobatan itu sendiri dapat menyembuhkan orang, yang bertentangan dengan semua dogma," kata Dr Steve Deeks, seorang ahli AIDS di Universitas California, San Francisco, dan seorang penulis studi baru tersebut.

Wanita yang dinyatakan sembuh dari HIV ini bernama Loreen Willenberg, berusia 66 tahun asal California. Ia cukup terkenal di kalangan peneliti karena tubuhnya telah menekan virus selama beberapa dekade setelah terinfeksi.

Hanya ada dua orang lainnya, Timothy Brown dari Palm Springs, California, dan Adam Castillejo dari London, yang telah dinyatakan sembuh dari HIV. Kedua pria tersebut menjalani transplantasi sumsum tulang khusus, membuat mereka memiliki sistem kekebalan yang kebal terhadap virus.

Transplantasi sumsum tulang terlalu berisiko untuk menjadi pilihan bagi kebanyakan orang yang terinfeksi HIV, tetapi pemulihan meningkatkan harapan bahwa kesembuhan itu mungkin terjadi. Pada bulan Mei, para peneliti di Brazil melaporkan bahwa kombinasi pengobatan HIV mungkin mengarah pada penyembuhan lain, tetapi para ahli lain mengatakan lebih banyak tes diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan itu.

"Saya pikir itu adalah novel, penemuan penting," kata Dr. Sharon Lewin, direktur Institut Infeksi dan Imunitas Peter Doherty di Melbourne, tentang studi baru tersebut.

"Tantangan sebenarnya, tentu saja, adalah bagaimana Anda dapat melakukan intervensi untuk membuatnya relevan dengan 37 juta orang yang hidup dengan HIV," lanjutnya.



Simak Video "Pelayanan ODHA di Masa Pandemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)