Jumat, 28 Agu 2020 05:30 WIB

Alasan RI Tak Capai Target WHO 30 Ribu Tes Corona Perhari

Ayunda Septiani - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Juru Bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan alasan mengapa tes Corona di Indonesia tidak bisa mencapai target WHO. Ia menyebut untuk mencapai target pemeriksaan sebanyak 30 ribu cukup berat karena ada beberapa hal.

"Kondisi ini terjadi karena upaya untuk memperkuat jejaringan laboratorium yang ada dan memaksimalkan fasilitasnya yang ada di laboratorium itu menjadi tantangan utama kami," ungkapnya dalam siaran pers melalui kanal YouTube Setpres, Kamis (27/8/2020).

Prof Wiku menambahkan, sumber daya manusia yang tidak banyak menjadi salah satu kendala kenapa pencapaian spesimen tidak mencapai target.

"Sumber daya manusia (SDM) laboratorium yang memang saat ini bekerja di lab jumlahnya tidak banyak, tentunya ini membutuhkan mobilisasi dari SDM lab yang lebih banyak. Sehingga jam operasionalnya bisa ditingkatkan," lanjutnya.

Selain SDM, Prof Wiku menyebut pengiriman sampel dari fasilitas kesehatan ke lab juga perlu diatur. Tidak hanya suplai dari reagen yang diperlukan untuk lab.

Namun, Prof Wiku menegaskan alat PCR di masing-masing laboratorium pun cukup banyak. Ada 12 kementerian lembaga yang mengelola hampir dari 300 laboratorium di Indonesia.



Simak Video "Satgas Sebut Banyak Orang Masih Tak Percaya Bahaya Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)