Rabu, 02 Sep 2020 07:25 WIB

Adanya Vaksin Tak Langsung Hentikan Pandemi, Ini 3 Alasannya

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Asian Beautiful Doctor Nurse woman in uniform with stethoscope, rubber gloves, mask check syringe injection, portrait , studio lighting dark background four back light flare silhouette copy space Ilustrasi vaksin Corona (Foto: iStock)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Indonesia telah mendapatkan akses 290 juta vaksin COVID-19 sampai akhir 2021. Namun, meski nantinya vaksin sudah berhasil tersedia di seluruh dunia, kemungkinan pandemi Corona tidak akan bisa langsung selesai begitu saja.

Hal ini karena butuh waktu yang cukup lama untuk bisa memberikan vaksin COVID-19 kepada seluruh warga dunia. Terlebih disebutkan, vaksinasi tidak cukup hanya dilakukan sekali.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 3 alasan mengapa pandemi Corona tidak bisa langsung usai setelah vaksin COVID-19 tersedia.

1. Antibodi tidak bertahan lama

Dikutip dari Business Insider, sejumlah penelitian menemukan bahwa antibodi COVID-19 dapat menghilang dalam waktu beberapa minggu atau bulan. Maka dari itu, beberapa ahli menyarankan agar vaksinasi dilakukan secara teratur.

"Jika kekebalan ternyata cepat menghilang," kata ahli ekologi Marm Kilpatrick.

"Kita akan membutuhkan rencana vaksinasi yang ditambah dengan penguat atau vaksinasi ulang secara berkala," tambahnya.

2. Kendala saat vaksinasi ulang

Dikutip dari CNN, sejumlah kendala dikhawatirkan dapat terjadi ketika vaksin COVID-19 harus diberikan secara teratur atau berkala.

Beberapa masalah yang dapat ditimbulkan salah satunya adalah dari segi logistik. Misalnya, kesulitan mendapatkan alat uji, APD, hingga terganggunya pendistribusian vaksin COVID-19 untuk seluruh negara.

"Tidak diragukan lagi bahwa ini akan menjadi program vaksinasi terbesar dan paling rumit dalam sejarah manusia dan itu akan membutuhkan upaya, tingkat kecanggihan, yang belum pernah kita coba sebelumnya," ujar Health policy professor di Vanderbilt University, Dr Kelly Moore.

3. Masalah logistik

Jika penduduk Indonesia ada sebanyak 267 orang dan harus mendapatkan vaksin COVID-19 minimal sebanyak dua kali, maka perlu 534 juta dosis untuk memenuhi kebutuhan vaksinasi.

Selanjutnya, bayangkan jika ada 7,5 miliar orang di seluruh dunia, tentu ini bukanlah jumlah yang sedikit dan perlu kerja keras untuk memenuhi jumlah dosis yang dibutuhkan.

Professor of supply chain management di Northeastern University, Amerika Serikat, Nada Sanders pun mengatakan bahwa kendala proses vaksinasi ini tidak hanya pada masalah penggandaan vaksin, tetapi juga segala bentuk sarana logistik pendukungnya.

"Jarum suntiknya, bisakah digandakan? Bisakah botolnya digandakan? Semua orang harus menerima vaksin dua kali dan mereka semua harus mendapatkannya tepat waktu di berbagai tempat," jelas Sanders.



Simak Video "Asa Vaksinasi di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)