Senin, 07 Sep 2020 10:45 WIB

Efek Jangka Panjang, Pasien Alami Kerusakan Paru Usai Sembuh dari COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Covid-19: Bagaimana mutasi memberi petunjuk tentang penyebaran dan asal-usul virus corona Efek jangka panjang pasien Corona. (Foto: BBC Magazine)
Jakarta -

Para peneliti menemukan bahwa pasien yang sudah pulih dari COVID-19 dan dipulangkan ternyata mengalami kerusakan paru-paru. Selain itu, para pasien tersebut juga mengalami sesak napas dan batuk setelah beberapa minggu pulang dari rumah sakit.

Efek berkepanjangan akibat virus Corona ini semakin memprihatinkan dan menyerang para pasien dengan infeksi yang ringan. Mereka melaporkan mengalami gejala lanjut selama berminggu-minggu bahkan sampai berbulan-bulan pasca sembuh dari infeksi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan para peneliti di Austria, menunjukkan enam minggu setelah keluar dari rumah sakit, pasien yang masih menunjukkan adanya tanda kerusakan pada paru-paru sebanyak 88 persen. Sementara 47 persen pasien lainnya mengalami sesak napas.

"Pasien COVID-19 mengalami kerusakan pada paru-paru beberapa minggu setelah pulih dari penyakit itu," kata Dr Sabine Sahanic dari University Clinic di Innsbruck, salah satu bagian dari penelitian tersebut yang dikutip dari The Guardian, Senin (7/9/2020).

Penemuan itu menunjukkan pasien COVID-19 sepertinya butuh waktu yang panjang untuk pulih, meski tidak memicu peningkatan parut di paru-paru. Penelitian tersebut meliputi beberapa tes yang harus dijalani pasien.

Tes yang dilakukan yaitu scan, pengukuran fungsi paru, dan pemeriksaan klinis yang dilakukan sebanyak dua kali atau enam minggu setelah keluar dari rumah sakit. Dari hasil tes ini, tim menemukan bahwa masalah kesehatan ini dialami oleh pasien dengan perawatan intensif maupun tidak.

Selain itu, volume paru-paru yang tersedia untuk bernapas kurang dari 80 persen. Ini dialami 24 pasien yang dirawat selama enam minggu dan 16 pasien yang dirawat 12 minggu. Tim peneliti juga menemukan adanya tanda-tanda kerusakan pada jantung dalam beberapa kasus, meski membaik seiring waktu.

Melihat hal ini, para peneliti tidak bisa mengesampingkan adanya kemungkinan bahwa masalah paru-paru itu sudah dimiliki pasien sebelumnya. Tetapi dari hasil scannya mengatakan masalah paru-paru ini disebabkan COVID-19, dan bisa membaik dari waktu ke waktu.

"(Dari mereka yang selamat) 30 persen pasien menunjukkan adanya kelainan struktural paru-paru yang bertahan selama berbulan-bulan setelah infeksi," ujar Sahanic.

"Ada banyak bukti bagi para penderita COVID-19, terdapat konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan mereka... Ini mungkin lebih umum terjadi pada pasien yang mengalami infeksi parah dan menggunakan ventilator," jelas profesor dan konsultan kedokteran pernapasan di University of Southampton, Tom Wilkinson.



Simak Video "Mari Lakukan Protokol Kesehatan untuk Membantu Sesama"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)