Selasa, 08 Sep 2020 14:31 WIB

Kematian Akibat COVID-19 Diprediksi Naik 3 Kali Lipat di Awal 2021

Ayunda Septiani - detikHealth
Stranded migrant workers line up to board buses before taking a special train to their destination during extended lockdown to curb the spread of new coronavirus, in Bangalore, India, Monday, May 18, 2020. India has recorded its biggest single-day surge in new cases of coronavirus. The surge in infections comes a day after the federal government extended a nationwide lockdown to May 31 but eased some restrictions to restore economic activity and gave states more control in deciding the nature of the lockdown. (AP Photo/Aijaz Rahi) Kematian akibat Corona diprediksi naik 3 kali lipat di awal tahun 20201. (Foto ilustrasi: AP Photo/Aijaz Rahi)
Jakarta -

Model penelitian dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di Fakultas Kedokteran Universitas Washington memprediksi bahwa kematian akibat Corona diseluruh dunia bisa meningkat drastis pada awal tahun 2021 mendatang.

IHME sendiri menjadi bagaian pemodelan yang memandu satuan tugas virus Corona di Amerika Serikat. Prediksi tersebut sekarang mengklaim bahwa sekitar 1,9 juta lebih orang mungkin kehilangan nyawa mereka pada akhir tahun.

Dilansir dari laman Independent, pemodelan tersebut melihat bahwa mungkin kematian akibat Corona di awal tahun depan bisa mencapai 2,8 juta jiwa. Mereka juga menyatakan bahwa beberapa daerah yang peling berisiko adalah Amerika Serikat (AS), India, Brasil.

Prediksi terbaru IHME menyatakan bahwa mungkin pada tanggal 1 Januari mendatang, total kematian di dunia akibat COVID-19 bisa meningkat tiga kali lipat menjadi 2,8 juta jiwa. Menurut IHME, angkat tersebut bisa ditekan jika pemerintah mempertimbangkan kembali langkah-langkah untuk menekan penyebaran virus Corona COVID-19.

"Kita bisa menghadapi prospek mematikan pada bulan Desember terutama di Eropa, Asia Tengah, dan Amerika Serikat," jelas direktur IHME Dr. Christopher Murray.

"Tapi memakai masker, menjaga jarak, dan membatasi pertemuan sosial sangat penting untuk membantu mencegah penularan virus," tambahnya.

Dari jumlah tersebut, 38 ribu diperkirakan berasal dari Inggris, sementara India, AS, dan Brasil akan mengalami kematian total paling banyak. Namun, para peneliti juga memodelkan skenario kemungkinan terburuk dan terbaik yang menghasilkan perbedaan 2 juta kematian tambahan di seluruh dunia.

Menurut pemodelan tersebut, jika pemerintah memberlakukan tindakan jarak sosial yang lebih besar maka tingkat kematian harian hanya akan naik di atas delapan kematian per satu juta orang. Dalam kasus tersebut kematian global akan mencapai 2 juta secara global.

Sementara jika orang mengabaikan protokol kesehatan dan pemerintah mulai melonggarkan pembatasan, maka kematian global akibat COVID-19 bisa mencapai 4 juta jiwa.



Simak Video "Dear Warga Indonesia, Yuk Lakukan 3W Agar Terhindar Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)