Kamis, 10 Sep 2020 11:57 WIB

DKI PSBB Lagi, Sanksi Apa yang Cocok Agar Pelanggarnya Jera?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Warga yang bandel tak pakai masker diberi sanksi dengan dimasukkan ke dalam peti mati di Kalisari, Jakarta Timur, Kamis (3/9/2020). Sanksi apa yang tepat untuk para pelanggar PSBB? (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Untuk menekan angka pasien Corona yang masih terus bertambah, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali diberlakukan di DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan kebijakan ini akan di mulai pada 14 September 2020 mendatang.

Menanggapi ini, Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, justru merasa khawatir. Ia khawatir masyarakat semakin tidak peduli dengan adanya PSBB ini, dan akhirnya melanggar aturan yang ada karena merasa terlalu jenuh dengan pandemi Corona yang melanda Indonesia 6 bulan ini.

"Yang saya takutkan karena ini (pandemi) sudah berjalan enam bulan, masyarakat nggak peduli, dilanggar semua aturan, bahkan petugas keamanan diajak berantem. Nah kalau sudah begitu, sudah parah," kata Miko pada detikcom, Kamis (10/9/2020).

Melihat ini, Miko merasa perlu ada tindakan hukuman yang diterapkan untuk para pelanggar PSBB. Jika diberikan dalam bentuk hukuman sosial, harus ada standarnya agar si pelanggar bisa kapok.

Miko memberi contoh seperti hukuman sosial yang sempat ramai yaitu peti mati. Lalu, muncul lagi hukuman untuk menyapu jalanan yang dianggapnya kurang efektif karena berubah-ubah.

"Jangan ganti-ganti. Ya peti mati, kemudian ganti menyapu, pokoknya ganti-ganti lah. Jadi harus pasti hukuman sosial yang diberikan," tegas Miko.

"Misalnya menyapu 1 kilometer atau 2 kilometer gitu jadi biar kapok gitu ada hukuman yang tetap," lanjutnya.



Simak Video "Dear Warga DKI, Tak Perlu Panic Buying Jelang PSBB Total Lagi..."
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)