Jumat, 18 Sep 2020 20:00 WIB

Masih Misterius, Ini Teori Terbaru Soal Asal-usul Virus Corona

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Setelah lebih dari enam bulan pandemi virus Corona terjadi di berbagai belahan dunia, para peneliti masih terus menyelidiki asal-usul virus tersebut. Tetapi, sebuah penelitian yang dipublikasikan di Nature Microbiology mungkin menemukan jawabannya.

Kelompok ilmuwan dari Amerika Serikat, China, dan Eropa membandingkan pola mutasi SARS-CoV-2 penyebab pandemi ini dengan virus lain, dan menemukan evolusi virus tersebut. Menurut penelitian tersebut, mereka menemukan garis keturunan yang menghasilkan wabah COVID-19 ini pada kelelawar.

"Secara kolektif, analisis kami menunjukkan kelelawar menjadi reservoir utama untuk garis keturunan SARS-CoV-2. Meskipun mungkin ada spesies lain yang juga bisa jadi sumber penularannya, tetapi bukti ini konsisten dengan virus yang berevolusi pada kelelawar yang menghasilkan sarbecovirus kelelawar yang bereplikasi di saluran pernapasan bagian atas manusia dan trenggiling," kata penulis penelitian yang dikutip dari Fox News, Jumat (18/9/2020).

Tim peneliti mengatakan, virus Corona baru ini berevolusi dari virus kelelawar lainnya sejak 40 sampai 70 tahun yang lalu. Mereka juga mengatakan, tanpa disadari garis keturunan yang memunculkan SARS-CoV-2 sudah menyebar pada kelelawar selama beberapa dekade.

Para peneliti mengatakan bahwa SARS-CoV-2 ini mirip secara genetik sekitar 96 persen dengan virus Corona RaTG13. Virus ini ditemukan pada kelelawar tapal kuda Rhinolophus affinis pada 2013 di Provinsi Yunnan, China.

"Kemampuan untuk memperkirakan waktu divergensi setelah menguraikan sejarah rekombinasi yang tengah kami kembangkan ini bisa mengarah pada wawasan tentang asal mula banyak patogen virus berbeda," jelas peneliti utama Philippe Lemey dari Department of Evolutionary and Computational Virology, KE Leuven dalam rilisnya.

Dalam laporan penelitian tersebut, para penulis mengatakan virus Corona baru punya sifat yang sama dengan virus yang lebih tua dari garis keturunan domain pengikat respon (RBD) pada spike protein, dan memungkinkannya untuk mengikat dengan sel reseptor manusia. Sifatnya yang mengikat reseptor ACE2 manusia itu merupakan sifat virus leluhur yang juga terdapat pada virus yang ada di kelelawar.

"Ini berarti bahwa virus lain yang mampu menginfeksi manusia menyebar dari kelelawar tapal kuda di China," ujar David Robertson yang merupakan profesor virologi komputasi di MRC-University of Glasgow Center for Virus Research.

"Meskipun ada juga kemungkinan bahwa trenggiling sebagai inang perantara yang menjadi sumber penularan SARS-CoV-2 ke manusia, tetapi tidak ada bukti ilmiah yang bisa membuktikannya," lanjutnya.

Namun, Robertson juga mengingatkan untuk mencari dan memprioritaskan virus yang dianggap bisa menginfeksi manusia dengan mudah untuk mencegah terjadinya pandemi selanjutnya di masa depan.



Simak Video "Satgas Sebut Banyak Orang Masih Tak Percaya Bahaya Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)