Senin, 21 Sep 2020 14:40 WIB

3 Fakta Anosmia, Gejala COVID-19 yang Ganggu Indra Penciuman

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Portrait of young woman putting on a protective mask for coronavirus isolation 3 Fakta anosmia, gejala COVID-19 yang ganggu indra penciuman. (Foto ilustrasi: iStock)
Topik Hangat Anosmia COVID-19
Jakarta -

Saat seseorang terinfeksi virus Corona, berbagai gejala biasanya muncul seperti demam, batuk hingga diare. Bahkan sebagian lainnya ada juga yang tidak mengalami gejala apapun atau disebut dengan orang tanpa gejala (OTG).

Namun dari beberapa gejala yang ada, kehilangan indra penciuman atau anosmia menjadi salah satu yang paling khas. Meskipun sering dialami saat seseorang flu, hal ini akan jauh lebih parah pada pasien COVID-19.

Apa itu anosmia?

Anosmia adalah kehilangan kemampuan indra penciuman yang biasanya dialami oleh seseorang yang sedang flu karena hidung tersumbat. Tetapi, belakangan kondisi ini sering sekali dialami para pasien COVID-19, diikuti dengan hilangnya kemampuan indra perasanya.

Bagaimana kondisi itu bisa terjadi?

Menurut penelitian, penyebab kehilangan penciuman ini bisa terjadi pada pasien COVID-19 karena adanya protein di permukaan beberapa sel manusia, yang bisa dengan mudah 'mengikat' virus Corona.

"Ini adalah sel-sel yang ditemukan di jantung, paru-paru, usus, tenggorokan, dan hidung," tulis peneliti yang dikutip dari Science Focus, Senin (21/9/2020).

Protein sejenis enzim yang disebut 'angiotensin converting enzyme II' (ACE-2), memiliki bentuk tertentu yang dirancang untuk mengambil hormon angiotensin dan mengubahnya menjadi ACE-2 yang digunakan tubuh untuk berbagai hal, seperti mengatur tekanan darah. Tetapi, ACE-2 ini bisa dengan mudah berikatan dengan virus Corona.

Terkait hal ini, tim ilmuwan dari Fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins melakukan penelitian dengan melihat sampel jaringan dari hidung pasien COVID-19. Ini dilakukan untuk melihat berapa banyak protein ACE-2 yang ditemukan di setiap jenis sel dan menemukan bahwa tingkat protein pada epitel olfaktorius, yaitu jaringan di bagian belakang hidung yang digunakan untuk mendeteksi bau. Ternyata jumlahnya sangat tinggi antara 200-700 kali.

"Sel-sel pendukung penciuman ini diperlukan untuk melindungi dan memelihara neuron halus di hidung yang mendeteksi bau dan memberi sinyal informasi itu ke otak," kata penulis studi Dr Andrew P Lane.

"Secara umum, saat sel manusia terinfeksi virus mereka menjalani proses yang disebut pyroptosis atau penghancuran diri untuk menggagalkan virus menempel pada sel. Jadi, kemungkinan besar sel pendukung penciuman itu menghancurkan dirinya sendiri yang menyebabkan kematian neuron sensorik dan hilangnya indra penciuman," lanjutnya.

Sampai kapan gejala itu akan terjadi?

Berdasarkan studi lanjutan yang dilakukan, para ilmuwan pun mengamati pasien yang pulih dari COVID-19. Mereka menemukan bahwa neuron sensorik ini perlahan mulai kembali dari waktu ke waktu, tetapi efek jangka panjang gejala ini masih belum diketahui.

"Beberapa pasien COVID-19 melaporkan setelah kemampuan indra penciuman mereka kembali, mereka mencium bau yang menyimpang (parosmia) dan bertahan selama berbulan-bulan," ujar Dr Lane.

"Gangguan bau jangka panjang COVID-19 ini tidak biasa, sehingga perlu dilakukan studi lebih lanjut," imbuhnya.

Namun, Dr Lane mengatakan kemungkinan perubahan fungsi penciuman ini bisa jadi permanen. Tapi, masih terlalu dini untuk mengetahuinya dan tetap optimis bahwa fungsi penciuman ini bisa kembali normal.



Simak Video "Yang Harus Dilakukan Jika Tak Bisa Cium Bau Seperti Gejala Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)
Topik Hangat Anosmia COVID-19