Kamis, 24 Sep 2020 17:47 WIB

Kasus Baru Corona RI Kembali Rekor, Satgas COVID-19 Jelaskan Penyebabnya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Jubir Satgas COVID-19 ungkap penyebab kasus Corona kembali rekor. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Pemerintah kembali melaporkan rekor kasus baru virus Corona COVID-19 di Indonesia. Per Kamis (24/9/2020), penambahannya mencapai 4.634 kasus.

Berdasarkan data per 20 September 2020, secara nasional kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia adalah sebanyak 8,4 persen. Adapun beberapa provinsi yang menjadi penyumbang kasus tertinggi, yaitu Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan, Riau, dan Papua.

"Sedangkan jumlah kasus tertingginya berasal dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan," ujar juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito, saat memberikan konferensi pers yang disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (24/9/2020).

Selain itu, Prof Wiku juga menyebutkan 3 hal yang bisa menjadi penyebab kenaikan kasus baru COVID-19 yang terjadi beberapa hari ini.

1. Masyarakat belum disiplin menjalankan protokol kesehatan

Prof Wiku mengatakan, penyebab pertama kenaikan kasus ini karena masyarakat belum disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Ini juga diperburuk dengan perilaku masyarakat yang masih berkerumun, sehingga meningkatkan risiko penularan.

2. Kurangnya empati masyarakat

"Seiring berjalannya waktu, kami melihat masyarakat semakin lengah dan mengabaikan protokol kesehatan," tegasnya.

Menurutnya, masyarakat seolah tidak memiliki rasa empati terhadap pandemi. Ini masih terus saja terjadi, meskipun masyarakat saat ini sudah melihat banyaknya korban yang berjatuhan setiap harinya karena menjadi korban COVID-19.

3. Masyarakat masih takut untuk melakukan testing

Penyebab ketiga adalah karena sebagian masyarakat masih takut untuk melakukan testing, saat dirinya memiliki gejala. Ini disebabkan karena adanya stigma negatif di masyarakat dan ketakutan yang tinggi terkait biaya perawatan yang besar jika terbukti positif COVID-19.

"Di sini kami himbau masyarakat untuk tidak memandang negatif pada mereka yang positif COVID, karena penyakit ini bukan penyakit yang memalukan. Siapapun yang terkena COVID harus kita bantu dan kita sembuhkan," jelas Prof Wiku.

"Dan tidak usah khawatir terkait biaya perawatan, karena seluruhnya ditanggung oleh pemerintah. Baik dengan BPJS atau tidak dengan BPJS," lanjutnya.



Simak Video "Satgas Sebut Banyak Orang Masih Tak Percaya Bahaya Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)