Sabtu, 26 Sep 2020 12:45 WIB

Para Ahli Yakini COVID-19 Menyebar Lewat Udara, Bukan Permukaan Benda

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Tenaga medis mendampingi orang tanpa gejala (OTG) menaiki bus sekolah di Puskesmas Kecamatan Jatinegara, Jakarta, Kamis (24/9/2020). Sejumlah unit bus sekolah kini dialihfungsikan menjadi kendaraan untuk mengantar pasien Covid-19 berstatus OTG dari puskesmas ke RS Darurat Wisma Atlet seiring meningkatnya kasus baru virus corona di Jakarta. Ahli percaya Corona menular lewat udara. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Pada awal pandemi COVID-19, para ahli mengira virus tersebut bisa lebih banyak menyebar melalui permukaan benda. Dengan kata lain, menyentuh permukaan yang memiliki droplet dilanjutkan dengan menyentuh wajah dapat berpotensi tertular COVID-19.

Atas dasar tersebut, orang-orang mulai disarankan untuk selalu membersihkan permukaan dengan disinfektan.

Namun semakin para ahli mempelajari mengenai COVID-19 dari waktu ke waktu, penelitian menemukan hanya sedikit bukti bahwa virus tersebut menyebar ke permukaan, melainkan lewat transmisi pernapasan.

Dikutip dari Medical Daily, para ahli di Montefiore Medical Center di New York City, Hospital of the University of Pennsylvania di Philadelphia, Massachusetts General Hospital, Harvard Medical School dan Brigham and Women's Hospital di Boston, melihat studi yang diterbitkan sejak awal pandemi COVID-19 berlangsung atau sekitar Januari 2020. Mereka juga memeriksa laporan pemerintah untuk melihat bagaimana virus tersebut menyebar.

Hasilnya, mereka hanya menemukan sangat sedikit penelitian yang menunjukkan virus COVID-19 hidup dipermukaan selama berjam-jam. Sebaliknya, penelitian dunia tegas menegaskan bahwa transmisi pernapasan adalah metode penularan utama. Itu berarti bersin, batuk atau dihirup oleh seseorang yang memiliki virus.

Bahkan ketika para peneliti mengira virus menyebar dari kontak permukaan, mereka tidak dapat mengesampingkan penularan pernapasan

"Sejauh yang saya tahu, belum ada kasus infeksi COVID yang terdokumentasi hanya dari menyentuh permukaan, meskipun saya pikir akan sulit juga untuk mendokumentasikan kasus seperti itu," kata Leann Poston, MD, pejabat asisten dan diretur penerimaan di Boonshoft School of Medicine Wright State University di Ohio.

"Virus dapat disebarkan melalui fomites atau objek, tetapi jauh lebih sulit. Seseorang perlu batuk atau bersin pada benda tersebut, dan kemudian orang lain perlu menyentuh permukaan yang terinfeksi dan kemudian menyentuh mata dan hidungnya. Bukan skenario yang mungkin terjadi, terutama sekarang, dengan tindakan pencegahan yang paling diambil untuk membendung penyebaran," jelas Dr Poston.

Para peneliti juga menemukan bahwa jarak dan ventilasi adalah kunci risiko penularan. Virus COVID-19 mencapai puncaknya sekitar satu hari sebelum timbulnya gejala dan menurun dalam seminggu setelah timbulnya gejala.

Jadi, apa pembersihan dan disinfektan masih perlu?

Peneliti percaya bahwa saat ini penularan utama COVID-19 adalah lewat droplet dankecil kemungkinan seseorang tertular Corona dari menyentuh permukaan benda. Sehingga tak perlu terlalu ekstrem dalam mendisinfeksi semua permukaan yang disentuh.

"Anda tak perlu menyeka setiap produk makanan kemasan dari toko begitu sampai di rumah atau mencuci pakaian dengan air panas kecuali Anda adalah dokter atau perawat yang kontak langsung dengan pasien COVID-19," kata Dr Pooneh Ramezani DDS.

Mendisinfeksi tetap perlu. Hanya saja lakukan pembersihan yang diperlukan. Miaslnya mengelap permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu dan meja dapur. Yang terpenting, lindungi diri dan orang sekitar dengan menjaga jarak setidaknya dua meter dan tetap memakai masker saat keluar rumah.



Simak Video "Penularan Corona di Pesawat Sangat Rendah Ketimbang Kesambar Petir"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)