Selasa, 29 Sep 2020 09:23 WIB

SARS Mewabah Lalu Lenyap Tak Berbekas, Mungkinkah Terjadi pada COVID-19?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
VANCOUVER, BRITISH COLUMBIA - APRIL 4:  Reporter Wendy Luo holds up a N95 mask manufactured by 3M, one of the only masks that guards against germs such as severe acute respiratory syndrome (SARS) April 4, 2003 in Vancouver, British Columbia, Canada. A SARS clinic opened at noon today at St. Vincents Hospital in Vancouver, British Columbia, Canada. SARS is a flu-like illness which has killed at least 80 people, mostly in Asia, and more than 2,200 have been infected around the world. U.S. President George W. Bush listed the mystery virus as a communicable disease by executive order today.  (Photo by Don MacKinnon/Getty Images) SARS pernah mewabah lalu lenyap tanpa bekas (Foto: iStock)
Jakarta -

Sebelum virus Corona COVID-19 yang memicu pandemi ini muncul, patogen lainnya pun sudah pernah membuat kepanikan di dunia. Di awal tahun 2003, tepatnya pada musim dingin di China Timur, patogen tersebut menyebabkan sindrom pernapasan akut yang dikenal dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome).

Wabah SARS ini merupakan epidemi yang mematikan pertama yang disebabkan oleh virus Corona. Saat itu, virus SARS ini menjadi virus baru yang sangat menakutkan.

Sama seperti jenis virus Corona yang saat ini menyebar ke seluruh penjuru dunia, virus SARS ini membuat masyarakat menimbun masker, membatalkan perjalanan ke Asia, dan membuat tempat karantina besar untuk mengatasi penularan virus tersebut.

Namun delapan bulan kemudian, virus SARS yang beredar itu mulai bisa diatasi, hingga akhirnya punah. Hilangnya SARS itu dianggap sebagai satu tanggapan yang kuat dan luar biasa.

Virus COVID-19 lebih sulit diatasi dibandingkan SARS

Tetapi, saat virus Corona baru melanda, jalur virus ini dianggap jauh lebih sulit diatasi daripada SARS. Bahkan para ahli menganggap bahaya yang ditimbulkannya jauh lebih besar. Pada 9 Februari saja, jumlah kasus kematian akibat COVID-19 ini sudah melampaui SARS.

Pejabat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan SARS menjadi ancaman kesehatan yang paling serius muncul dalam 20 tahun. SARS yang mirip penyakit pneumonia ini menewaskan sekitar 1 dari setiap 10 orang yang terinfeksi.

"Terjadi kepanikan yang sangat besar," kata direktur Pusat Kolaborasi WHO, Lawrence Gostin yang dikutip dari Los Angeles Times, Selasa (29/9/2020).

Pada akhirnya, wabah SARS yang melanda 29 negara ini bisa diatasi dengan melakukan pengujian, mengisolasi pasien, dan memeriksa para pendatang di bandara dan tempat lain, yang mungkin saja bisa menyebarkan virus. Caranya, jika ada orang yang sakit bisa dihentikan agar tidak menulari orang lain, hingga akhirnya virus itu mati.

Namun, Gostin mengatakan strategi seperti ini lebih sulit dilakukan pada COVID-19 karena jumlah kasus yang lebih banyak. Di akhir pandemi SARS total orang yang terinfeksi sebanyak 8.000, sementara COVID-19 lebih dari 73.000 orang.

"Ini mempengaruhi ratusan ribu orang dan bisa terus bertambah di masa mendatang. Sangat sulit untuk menahannya. Ini adalah tantangan yang jauh lebih besar daripada SARS," jelas Gostin.

Dibandingkan dengan COVID-19, wabah SARS dianggap lebih mudah dihentikan dan risiko penularannya relatif rendah. Menurut pemimpin unit penyakit menular WHO, Dr David Heymann, penanganan wabah SARS ini menjadi kesuksesan terbesar di bidang kesehatan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.

Para ilmuwan mengetahui bahwa SARS dan COVID-19 seperti sepupu yang memiliki kesamaan genetik sebesar 70 persen. Keduanya termasuk dalam keluarga virus Corona yang diketahui hanya menyebabkan flu biasa pada manusia.

Apa COVID-19 bisa hilang seperti SARS?

Seorang ahli mikrobiologi di Universitas Iowa yang mempelajari virus Corona, Dr Stanley Perlman mengatakan virus SARS bereplikasi jauh di dalam paru-paru manusia yang mungkin menyebabkan tingkat kematian yang tinggi. Tetapi, itu juga membuat virus tersebut lebih kecil kemungkinannya untuk menyebar daripada COVID-19.

Ia mengatakan, virus SARS tumbuh di hidung dan saluran pernapasan manusia, sehingga bisa lebih mudah menyebar lewat batuk dan bersin. Meskipun SARS mungkin tidak menular sampai mereka sakit, itu tidak berlaku untuk COVID-19.

Dr Perlman mengatakan bahwa ia tidak yakin pandemi COVID-19 yang ada saat ini bisa seperti SARS, yang hilang begitu saja. Jika tidak mereda, virus ini bisa saja muncul di musim-musim tertentu, seperti di musim dingin.

Peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Falk College, Syracuse, Brittany Kmush, mengatakan COVID-19 menyebar lebih cepat dibandingkan SARS dan lebih sulit dikendalikan.

"Saya kira jika SARS memiliki karakteristik yang mirip dengan virus Corona baru ini, SARS pasti masih akan tetap menyebar," kata Kmush.



Simak Video "Mencontoh Singapura yang Sigap Pandemi Sejak Epidemi SARS"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)