ADVERTISEMENT

Rabu, 30 Sep 2020 10:49 WIB

Pasca Sembuh, Organ-organ Ini Bisa Kena Efek Jangka Panjang COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
A doctor pushes a COVID-19 patient in a wheelchair in the emergency area of the Guillermo Almenara hospital in Lima, Peru, Friday, May 22, 2020. Despite strict measures to control the virus, this South American nation of 32 million has become one of the countries worst hit by the disease. (AP Photo/Rodrigo Abd) Organ tubuh yang alami efek jangka panjang akibat COVID-19. (Foto ilustrasi: AP Photo/Rodrigo Abd)
Jakarta -

Pandemi virus Corona sampai saat ini masih terus menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bahkan sudah banyak nyawa yang hilang sejak wabah pertama kali muncul akhir 2019 lalu.

Berbagai gejala yang muncul saat seseorang terinfeksi seperti demam, batuk terus-menerus, sesak napas, hingga kehilangan fungsi indra penciuman. Tetapi, pandemi ini juga menyebabkan efek jangka panjang pada pasiennya.

Dikutip dari ABC News, semakin banyak laporan dan penelitian yang mencatat pengalaman para pasien COVID-19 yang sudah sembuh, tapi masih merasa kelelahan, sesak napas, atau bahkan nyeri pada otot terus-menerus. Menurut ahli virologi dari Queensland University, Dr Kirsty Short, banyaknya pasien yang mengalami kondisi efek jangka panjang ini masih sulit untuk diperkirakan secara pasti, karena virus ini masih baru.

"Ini (efek pada kesehatan) pasti terjadi, hanya saja belum bisa mengetahui seberapa umum itu terjadi," kata Dr Kirsty.

Pada bulan Juli lalu, peneliti di Italia pun menemukan hampir 90 persen pasien COVID-19 akut yang sudah sembuh masih mengalami gejala sampai 2 bulan setelahnya. Sementara penelitian di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan gejala COVID-19 bisa bertahan pada sekitar 10-15 persen pasien.

Orang tanpa gejala (OTG) dan pasien dengan gejala ringan pun juga bisa mengalami efek jangka panjang ini. Bahkan bisa bertahan sampai berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Meskipun virus Corona itu virus yang menyerang sistem pernapasan, tetapi kerusakan yang disebabkannya bisa terjadi pada organ tubuh lainnya. Virus ini bisa merusak hati, jantung, pembuluh darah, ginjal, dan saluran pencernaan.

"Kemungkinan besar mereka mengalami respons peradangan yang luar biasa, yang kita ketahui terjadi pada pasien COVID-19. Dan kemudian itu memiliki efek langsung," kata Dr Kirsty.

Berikut beberapa organ tubuh yang bisa rusak akibat efek jangka panjang dari infeksi COVID-19:

1. Paru-paru

Paru-paru ini bisa rusak saat virus masuk ke dalam sel-sel saluran udara. Ini bisa menyebabkan jaringan parut dan kaku yang mempersulit paru-paru untuk melakukan tugasnya untuk mengoksidasi darah, sehingga membuat seseorang terengah-engah.

2. Jantung

Virus ini pun bisa berdampak pada salah satu organ vital tubuh, yaitu jantung. Ini bisa menyebabkan radang otot jantung atau gagal jantung yang penyebabnya bisa karena kekurangan oksigen.

Ahli lainnya dari Queensland University, Dr Linda Gallo mengatakan bahwa COVID-19 memang bisa menyebabkan kerusakan jantung, tetapi umumnya tidak bertahan jauh dari masa pemulihannya.

"Dari bukti yang kami tahu, virus Corona juga berpengaruh pada jantung. Namun, itu umumnya tidak bertahan melampaui masa pemulihan," jelas Dr Gallo.

3. Otak

Jika virus Corona ini sudah masuk ke otak, itu bisa menyebabkan infeksi yang parah secara tiba-tiba. Gejala neurologis juga bisa terjadi akibat peradangan otak atau stroke karena pembekuan darah.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT