Rabu, 30 Sep 2020 12:31 WIB

WHO Soroti Kondisi Dokter di Indonesia Selama Pandemi COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Sejumlah tenaga kesehatan mengenakan alat pelindung diri (APD) saat uji rapid test COVID-19 masal di Kota Pekanbaru, Riau, Kamis (4/6/2020). Kementerian Keuangan menyatakan hingga kini belum mengantongi data tenaga kesehatan (Nakes) dari pemerintah daerah yang menangani COVID-19, sehingga insentif untuk tenaga medis belum bisa dicairkan. ANTARA FOTO/FB Anggoro/nz WHO singgung kondisi dokter Indonesia di masa pandemi Corona. (Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Jakarta -

Kondisi tenaga kesehatan di masa pandemi COVID-19 jadi perhatian. Jumlah pasien terus meningkat setiap harinya yang tentu berdampak pada kondisi tenaga medis, baik secara fisik maupun mental.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan Situational Report COVID-19 Indonesia per 23 September, menyoroti soal angka kematian dokter yang per tanggal 12 September sudah menyentuh angka lebih dari 100 orang. Per tanggal 27 September, Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia mencatat ada 127 dokter yang meninggal akibat terpapar COVID-19.

WHO juga menyinggung banyaknya tenaga kesehatan yang sudah mengalami kelelahan atau burnout di masa pandemi COVID-19.

"Studi dari Universitas Indonesia yang dilakukan dari Juni-Agustus menunjukkan sekitar 83 persen atau lebih dari 1.400 tenaga kesehatan di seluruh negeri mengalami kelelahan derajat sedang sampai berat," tulis WHO di situs resminya seperti yang dilihat detikcom, Rabu (30/9/2020).

"Beberapa dokter bahkan harus membayar sendiri tes PCR mereka hingga Rp 2,5 juta, sementara dokter lain mungkin tanpa sadar membawa penyakit tersebut," tambahnya.

Dalam laporan yang diterbitkan belum lama ini, WHO juga menyinggung soal serapan anggaran kesehatan di Indonesia yang baru dicairkan 6 persen dari total anggaran sebanyak Rp 87 triliun.

Selain itu, mengenai kondisi penanganan COVID-19 sendiri, WHO juga menyoroti soal jumlah kasus harian yang dilaporkan di Indonesia bukanlah jumlah orang yang terjangkit COVID-19 di hari itu sebab konfirmasi laboratorium bisa memakan waktu sampai sepekan.



Simak Video "Dirjen WHO: Kita Semua Berutang pada Tenaga Medis"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)