Jumat, 02 Okt 2020 11:22 WIB

Alami Kesalahan Saat Tes Swab, Cairan Otak Wanita Ini Bocor

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Seorang wanita mengalami kondisi langka, yakni kebocoran cairan otak di hidungnya. Setelah dicari tahu penyebabnya, ternyata cairan serebrospinal (CSF) ini keluar setelah ia melakukan tes swab.

"Sepengetahuan kami, ini adalah laporan pertama kasus kebocoran CSF iatrogenik setelah melakukan tes swab COVID-19 lewat hidung," tulis laporan yang diterbitkan di jurnal JAMA Otolaryngology bagian Bedah Kepala dan Leher, dikutip dari New York Post, Jumat (2/10/2020).

Kejadian bermula saat wanita berusia 40 tahun yang tidak disebutkan namanya ini wajib menjalani tes Corona, sebelum dirinya menjalani operasi hernia elektif. Tes swab itu dilakukan melalui hidung, yang sesuai dengan rekomendasi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Setelah melakukan tes swab, wanita ini mulai merasa sakit kepala, lehernya kaku, fotosensitifitas, muntah, dan ada 'rasa logam' di mulutnya. Saat menyadari ada yang salah, ia langsung melapor ke rumah sakit dan melakukan CT scan.

Terlihat ada kantung CSF berukuran 1,8 sentimeter yang menjorok ke dalam rongga sinus di antara celah tulangnya. Menurut Children's Wisconsin health system, kondisi ini dikenal dengan ensefalokel yaitu tulang tengkorak yang tidak menutup sepenuhnya, sehingga meninggalkan retakan di tempat CSF dan jaringan otak menumpuk.

Melihat kondisi wanita ini, dokter berspekulasi bahwa tes swab yang dilakukan di hidung itu memecahkan kantong CSF sehingga cairan tulang belakang pelindung otaknya bocor. Akibatnya, wanita ini mengalami perubahan keseimbangan serebral yang disebut hipotensi intrakranial spontan dan tekanan tinggi di otaknya.

Analisis CT scan mengungkapkan kondisi wanita tersebut salah diidentifikasi. Bukannya teridentifikasi sebagai encephalocele, tetapi peradangan hidung. Untuk mengatasinya, dokter bisa mengisi celah yang bermasalah itu dengan mencangkok kulit jaringan lunak.

Menurut laporan tersebut dari kasus ini, sangat dibutuhkan pelatihan dokter terkait skrining usap atau swab ini. Hal ini untuk menghindari cedera otak yang tidak disengaja, dan juga mengusulkan adanya prosedur skrining alternatif lainnya untuk pasien yang mengalami masalah sinus atau penyakit yang berkaitan dengan tengkorak.



Simak Video "Ilmuwan Jerman Pamerkan Alat Uji Corona Baru yang Lebih Cepat"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)