Kamis, 08 Okt 2020 20:00 WIB

Sakit Kepala yang Seperti Ini Bisa Jadi Gejala COVID-19

Ayunda Septiani - detikHealth
di Chile, pasien Corona tidak dibiarkan wafat dalam kesendirian (AFP Photo) Ilustrasi pasien COVID-19. (Foto: AFP Photo)
Jakarta -

Para peneliti mengungkap gejala baru virus Corona COVID-19. Mereka menilai sakit kepala dengan rasa berdenyut-denyut bisa menjadi tanda COVID-19 yang buruk.

Dikutip dari laman Times of India, sebuah studi dalam jurnal Annals of Clinical and Translational Neurology pada 5 Oktober 2020, termasuk survei yang dilakukan pada 509 pasien dengan virus Corona COVID-19 di berbagai rumah sakit Northwestern Medicine di Chicago, AS.

Studi tersebut menemukan bahwa hampir 38 persen dari pasien tersebut mengalami sakit kepala di beberapa titik selama periode infeksi. Orang-orang lebih mungkin menghadapi gejala neurologis selama perjalanan penyakit mereka.

"Ini adalah studi pertama dari jenisnya di Amerika Serikat (AS). Hanya ada dua makalah yang diterbitkan yang menjelaskan prevalensi manifestasi neurologis pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit di Cina dan Eropa," ujar Igor Koralnik, rekan penulis studi dan MD yang mengawasi Klinik Neuro Covid-19 di Rumah Sakit Memorial Northwestern.

Selain itu, studi melaporkan bahwa hampir 82 persen pasien yang menderita virus Corona mengalami gejala neurologis. 43 persen mengalami gejala pada tahap awal, sementara 63 persen menghadapi gejala neurologis selama mereka dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu, angka-angka ini menunjukkan bahwa sakit kepala adalah salah satu gejala COVID-19 neurologis paling umum, yang mengharuskan penderitanya segera dirawat di rumah sakit.

Penelitian lebih lanjut menyatakan bahwa pasien dengan manifestasi neurologis mengalami rawat inap lebih lama. Para peneliti juga menyimpulkan bahwa ensefalopati dikaitkan dengan hasil fungsional yang lebih buruk pada pasien rawat inap dengan Covid-19, dan mungkin memiliki efek yang bertahan lama.

Ensefalopati merupakan istilah umum yang digunakan untuk menekankan pada penyakit otak, kerusakan, atau kerusakan.

"32 persen pasien yang dirawat di rumah sakit akhirnya mengalami perubahan fungsi otak yang menyebabkan sakit kepala," jelas Koralnik.

Lebih dari dua pertiga pasien yang mengalami kerusakan fungsi otak tidak mampu merawat diri sendiri bahkan setelah meninggalkan rumah sakit. Di sisi lain, 90 persen pasien yang tidak mengembangkan ensefalopati tidak menghadapi masalah apapun setelah mereka keluar dari rumah sakit.

"Pasien dan dokter perlu menyadari frekuensi tinggi manifestasi neurologis Covid-19 dan tingkat keparahan fungsi mental yang berubah terkait dengan penyakit ini," kata Koralnik.

Dr Merle Diamond, presiden dan direktur pelaksana dari Diamond Headache Clinic Chicago yang tidak terlibat dalam studi tersebut menjelaskan sakit kepala karena virus Corona COVID-19 disertai gejala lain seperti batuk, demam, dan sensasi nyeri di kepala seperti 'sangat tertekan'.

"Sensasi itu terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kita bereaksi sebagai respons terhadap virus Corona, melepaskan bahan kimia yang disebut sitokin. Sitokin menghasilkan peradangan, yang dirasakan sebagai rasa sakit oleh korteks serebral otak," jelas Diamond.



Simak Video "Mata Pink Mike Pence Jadi Trending Usai Debat Cawapres AS"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)