Rabu, 07 Okt 2020 12:38 WIB

Dua Kali Terinfeksi COVID-19, Pria Ini Alami Gejala yang Berbeda

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi pasien di rumah sakit Dua kali terinfeksi COVID-19, pasien ini alami gejala yang berbeda. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Seorang pria asal Georgia, Amerika Serikat, diduga mengalami reinfeksi virus Corona. Bahkan ia mengalami gejala-gejala yang berbeda di kedua kalinya.

Pria bernama Jordan Josey terinfeksi virus Corona pertama kali pada Maret, dan mengalami gejala seperti demam dan sesak napas. Hingga dua bulan kemudian tepatnya bulan Mei, ia dinyatakan negatif dan memiliki antibodi COVID-19 di dalam tubuhnya dan menyumbangkan plasma darahnya.

"Pada saat itu (bulan Maret), saya menggigil. Rasanya seperti ada sesuatu yang mencengkram tubuh saya," kata Jordan yang dikutip dari Mirror, Rabu (7/10/2020).

Namun, pada bulan Juli 2020 pria berusia 29 tahun ini kembali sakit dan dinyatakan positif terinfeksi virus Corona. Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait berapa lama antibodi itu bisa memberikan perlindungan dari Corona.

Saat infeksi kedua ini, ia mengalami pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar lehernya yang membuatnya susah bernapas. Jordan juga kehilangan nafsu makan, kelelahan, hingga berat badannya menyusut, dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.

"Pada bulan Juli, berbicara saja saya sudah merasa lelah. Saya tidak bisa berbicara banyak selama menelepon. Saya masih menggunakan inhaler steroid, untuk membantu mencegah sesak napas," jelasnya.

Menanggapi hal ini, profesor kedokteran di divisi penyakit menular dan kedokteran internasional di University of Minnesota Medical School, Dr Susan Kline mengatakan banyak orang yang mulai mempertanyakan kemungkinan pasien COVID-19 sembuh, bisa terinfeksi kembali.

"Orang-orang mulai mempertanyakan kemungkinan infeksi ulang terjadi tidak lama setelah terinfeksi atau tidak. Laporan ini membuat kami mempertanyakan berapa banyak lagi infeksi virus Corona yang telah terjadi," jelas Dr Susan yang dikutip dari CNN.

Dr Susan menjelaskan, biasanya beberapa keluarga virus memang menjadi laten dan aktif kembali. Misalnya seperti virus varicella-zoster, yang bisa menyebabkan cacar air pada anak-anak yang tidak aktif dan bisa aktif lagi sebagai herpes zoster.

Pada virus Corona sebelumnya seperti SARS, MERS, dan kutu musim dingin memang cenderung bersifat seperti itu. Tetapi, Dr Susan mengatakan tampaknya virus Corona COVID-19 ini tidak mungkin aktif lagi pada orang yang sudah pernah terinfeksi sebelumnya.

"Kami tidak memiliki bukti kuat terkait kondisi itu. Tapi, kami tidak bisa mengesampingkan kemungkinan itu," pungkasnya.



Simak Video "Meski Kasus Melandai, Satgas Covid-19 Ingatkan Pandemi Belum Berakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)