Jumat, 02 Okt 2020 10:11 WIB

Kasus Reinfeksi Corona Kembali Terjadi, Tanda Antibodi Tak Bertahan Lama?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Covid-19: Bagaimana mutasi memberi petunjuk tentang penyebaran dan asal-usul virus corona Satu kasus reinfeksi Corona baru kembali dilaporkan. (Foto ilustrasi: BBC Magazine)
Jakarta -

Kasus reinfeksi virus Corona kembali dilaporkan, dan kali ini terjadi di daerah Seattle, negara bagian Washington, Amerika Serikat. Para peneliti mengatakan reinfeksi ini dialami seorang penghuni panti jompo.

Pasien dari panti jompo yang tidak diketahui namanya ini berusia 60 tahun, yang sebelumnya dirawat selama empat bulan di rumah sakit karena terinfeksi COVID-19. Tetapi, saat terinfeksi kedua kalinya ini ia hanya mengalami gejala yang ringan.

"Sebagian besar kasus menjadi lebih ringan untuk kedua kalinya," kata Dr Jason Goldman yang merupakan kepala Tim Riset COVID-19 di Swedish Medical Center, Seattle yang dikutip dari New York Post, Jumat (2/10/2020).

"Bahkan jika sistem kekebalan tubuh gagal untuk mencegah infeksi kedua ini, tetapi itu membatasi tingkat keparahan untuk kedua kalinya akibat virus Corona tersebut," lanjutnya.

Sebelumnya, kasus reinfeksi yang dilaporkan pertama kali dialami pria berusia 35 tahun di Hong Kong dan pria lain berusia 25 tahun di Reno, Nevada.

"Kebanyakan kasus memiliki jarak empat bulan atau lebih dari infeksi pertama sampai yang kedua. Jadi, itu mungkin merupakan titik perubahan, di mana kekebalan tubuh mulai berkurang," jelas Dr Goldman.

Dr Goldman juga mengatakan sampai saat ini para peneliti masih terus mencoba untuk mempelajari dan memahami terkait berapa lamanya antibodi virus Corona bisa bertahan. Hal ini berguna untuk menjaga tubuh dari virus tersebut.

"Kami masih harus belajar tentang virus ini dan (jumlah) kekebalan yang kami butuhkan untuk melindungi diri dari virus ini," lanjutnya.



Simak Video "Riset Ahli Soal Kasus Pasien Sembuh Corona Kembali 'Terinfeksi'"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)