Minggu, 11 Okt 2020 11:12 WIB

Game Viral Among Us Bisa Picu Impostor Syndrom, Benar Nggak Sih?

Ayunda Septiani - detikHealth
Game online Among Us Game among us. (Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto)
Jakarta -

Istilah 'impostor' belakangan viral di media sosial karena game among us. Karakter impostor dalam game among us adalah pembunuh dan suka mengelabui karakter lainnya.

Meski begitu, apakah karakter impostor dalam game Among Us ini sama dengan impostor syndrome? Bedakah kriteria impostor dalam game among us dan impostor syndrome?

Psikolog klinis Kasandra Putranto dari Kasandra & Associate mengatakan bahwa istilah impostor syndrome ini sebenarnya tidak secara resmi ada. Istilah impostor syndrome dibuat oleh orang awam dan kriterianya menjadi tidak jelas.

"Bisa jadi dibuat oleh orang awam, yang satu contoh kriteria 'adalah orang yang merasa tidak percaya diri, tidak memenuhi ekspektasi, menjadi insecure, merasa bersalah, apabila dia mendapatkan pengakuan, menutup diri," papar Kasandra, saat ditemui detikcom, Jumat (2/10/2020).

Namun untuk kriteria dalam game Among Us yang berada di masyarakat memiliki definisi berbeda. Dijelaskan oleh Kasandra, kriterianya bisa jadi jenius, perfectionist, ada perilaku melakukan kejahatan karena terdorong mengekspresikan diri.

Kasandra memberi contoh, jika seorang ayah meyakini bahwa anaknya mengalami impostor karena dia membaca artikel, bahwa impostor yang ia baca dalam artikel kriterianya adalah anak yang merasa tidak percaya diri, lalu kemudian merasa tidak pantas, itu akan sangat berbahaya karena sebenarnya makna dari impostor syndrom itu sendiri tidak bisa dikaitkan dengan game Among Us.

"Jika seorang ayah ini melihat kriteria anak pada game (among us) pasti akan kaget, karena kriterianya sangat mengerikan, sampai bisa melakukan kejahatan," tambah Kasandra.

Kasandra juga menyarankan kepada masyarakat untuk lebih cermat dalam menggunakan istilah. Untuk meyakini sebuah diagnosa harus melalui pemeriksaan yang memang sesuai standar dan dilakukan oleh ahli yang memiliki kompetensi.

"Karena ketidakbakuan dari penegakan syndrome ini, itu yang membuat akhirnya hanya menjadi istilah yang digunakan oleh masyarakat, dan masyarakatpun sering kali secara mudah melakukan self diagnosis," pungkas Kasandra.

Untuk mengetahui lebih lanjut, bisa cek selengkapnya di sini ya.

[Gambas:Video 20detik]

(kna/kna)