Kamis, 15 Okt 2020 11:30 WIB

Studi Terbaru Perkuat Bukti Golongan Darah O Lebih 'Kebal' Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
golongan darah Golongan darah ini disebut lebih kebal Corona. (Foto ilustrasi: Chinatopix via AP Photo)
Jakarta -

Dua studi terbaru memperkuat bukti golongan darah tertentu berkaitan dengan rentan tidaknya seseorang terpapar COVID-19. Perlu diketahui, sebuah studi sebelumnya menyebut golongan darah O lebih 'kebal' COVID-19.

Lagi-lagi, studi terbaru menyatakan hal yang sama. Golongan darah O dinilai memiliki kemungkinan yang sangat kecil terpapar COVID-19.

Bahkan jika terinfeksi COVID-19, golongan darah O disebut tidak berisiko mengalami sakit parah. Sebuah penelitian di Denmark menemukan bahwa di antara 7.422 orang yang dites positif COVID-19, hanya 38,4 persen yang memiliki golongan darah O.

Meskipun, di antara sekelompok 2,2 juta orang yang tidak dites COVID-19, golongan darah O merupakan 41,7 persen dari populasi. Sementara itu, 44,4 persen dari golongan darah A dinyatakan positif COVID-19, sedangkan pada populasi Denmark yang lebih luas, golongan darah A mencapai 42,4 persen.

Dalam studi lain, para peneliti di Kanada menemukan bahwa di antara 95 pasien yang sakit kritis karena COVID-19, pasien dengan golongan darah A atau AB sebanyak 84 persen, membutuhkan alat bantu pernapasan, dibandingkan dengan pasien golongan darah O atau B, sebanyak 61 persen.

Mengapa golongan darah bisa menunjukkan kerentanan terhadap COVID-19?

Dikutip dari CNN International, dua studi baru terkait hubungan golongan darah dan infeksi COVID-19 dipublikasikan di jurnal Blood Advances. Meskipun ada beberapa teori, para peneliti belum mengetahui mekanisme apa yang dapat menjelaskan hubungan antara golongan darah yang berbeda dengan COVID-19.

Peneliti salah studi Denmark mengatakan orang dengan golongan darah O memiliki lebih sedikit faktor pembekuan utama yang membuat mereka kurang rentan terhadap masalah koagulasi dalam darah. Penggumpalan darah telah menjadi pendorong utama keparahan COVID-19.

"Kami tidak tahu apakah ini semacam perlindungan dari kelompok O, atau apakah itu semacam kerentanan pada golongan darah lainnya," kata Dr Torben Barington, penulis senior makalah Denmark dan profesor klinis di Rumah Sakit Universitas Odense dan Universitas Denmark Selatan.

"Saya pikir ini memiliki kepentingan ilmiah, dan ketika kita mengetahui apa mekanismenya, mungkin kita dapat menggunakannya secara proaktif dalam beberapa cara sehubungan dengan pengobatan," lanjutnya.

Tanggapan pakar terkait hubungan golongan darah dengan infeksi COVID-19

"Temuan dari dua studi baru ini memberikan bukti yang lebih konvergen bahwa golongan darah mungkin berperan dalam kerentanan seseorang terhadap infeksi COVID-19 dan peluang mereka terkena serangan COVID-19 yang parah," kata Dr Amesh Adalja, peneliti senior di Pusat Keamanan Kesehatan Universitas Johns Hopkins di Baltimore, yang tidak terlibat dalam studi apa pun.

Sebuah studi terpisah, yang diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine Juni lalu juga menemukan data genetik pada beberapa pasien COVID-19. Orang sehat dengan golongan darah A memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi COVID-19 dan golongan darah O berada di risiko yang lebih rendah terpapar COVID-19.

"Studi genetik sebelumnya, dipasangkan dengan dua studi baru dalam Blood Advances, memberi kesan bahwa ini adalah fenomena nyata yang kita lihat," kata Adalja, yang penelitiannya difokuskan pada penyakit menular yang muncul.



Simak Video "Golongan Darah A Paling Berisiko Terinfeksi Parah Sars-CoV-2"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)