Jumat, 16 Okt 2020 17:23 WIB

Remdesivir Disebut Tak Terlalu Bermanfaat, Gilead Pertanyakan Temuan WHO

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Medication prepared for people affected by Covid-19, Remdesivir is a selective antiviral prophylactic against virus that is already in experimental use, conceptual image Remdesivir (Foto: iStock)
Jakarta -

Gilead Sciences Inc mempertanyakan temuan organisasi kesehatan dunia WHO soal antivirus remdesivir. Dikatakan, obat ini hanya memberikan sedikit efek pada pasien virus Corona COVID-19.

Dalam Solidarity Trial, WHO menyebut remdesivir hanya memberikan sedikit efek pada kematian ataupun lama waktu perawatan pada pasien dengan gangguan pernapasan.

Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat ini menyebut, data yang digunakan tampak tidak konsisten. Temuan tersebut dinilai prematur, sedangkan penelitian lain memvalidasi manfaat remdesivir.

Presiden AS Donald Trump merupakan salah satu pasien COVID-19 yang menerima pengobatan remdesivir. Menurut berbagai penelitian sebelumnya, pemberian remdesivir memperpendek waktu perawatan, meski Uni Eropa tengah menyelidiki kemungkinan cedera ginjal.

Dikutip dari Reuters, penelitian yang dilakukan WHO melibatkan 11.266 pasien dewasa di lebih dari 30 negara. Bukti yang didapat disebut konklusif menurut WHO.

Sementara penelitian Gilead pada 1.062 pasien yang dibandingkan dengan pemberian plasebo menunjukkan adanya waktu pemulihan yang lebih pendek pada pasien COVID-19.

"Data emerging (WHO) tampak inkonsisten, dengan lebih banyak bukti kuat dari penelitian terkontrol dan acak yang dipublikasikan di jurnal peer reviewed memvalidasi manfaat klinis remdesivir," kata Gilead kepada Reuters.



Simak Video "FDA Setujui Remdesivir Sebagai Antivirus untuk COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)