Sabtu, 17 Okt 2020 18:00 WIB

Hasil Swab Pertama Negatif Tapi Kedua Positif, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Sampel tes Corona. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Tes usap atau swab jadi cara untuk menentukan apakah seseorang tertular COVID-19 atau tidak. Tingkat keakuratan tes swab juga lebih tinggi daripada metode pemeriksaan lainnya.

Hanya saja, ada kasus di mana hasil swab pertama negatif lalu selang beberapa hari setelahnya dia dinyatakan positif COVID-19 saat menjalani tes kedua. Seperti yang dialami oleh pembalap Valentino Rossi.

Sebelum dipastikan positif, Rossi sempat menjalani 2 tes dengan hasil yang berbeda. Tes pertama hasilnya negatif, tetapi yang kedua hasilnya positif COVID-19.

Apa sih yang menyebabkan hasil tes Corona bisa berbeda?

Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, PhD, mengatakah hal ini tergantung pada natural history kasusnya. Kemungkinan di awal paparan sekitar 2-3 hari atau pasca paparan, infeksi pada pasien belum terdeteksi.

"Di awal paparan dengan pasien (2-3 hari) pertama mungkin belum terdeteksi, namun bisa menjadi posisi setelah 5-7 hari pasca paparan," jelas Ahmad saat dihubungi detikcom, Jumat (16/10/2020).

"Beda lagi kasusnya pasien suspek sesak nafas, di pcr positif. Lalu setelah dirawat menjadi negatif," lanjutnya.

Ahmad mengatakan, 'shopping hasil PCR' atau tes berulang kali di lab dan di hari yang berbeda dianggap tidak lazim. Menurutnya, selama tes PCR dilakukan di lab PCR yang kredibel tidak perlu di tes ulang.

Namun, jika kasus tersebut sudah menunjukkan gejala klinis dan data lab (CT Scan, darah, dan lainnya) menunjukkan gejala COVID-19, harus dipastikan kembali.

"Maka harus dipastikan sampling berulang, kalau perlu dari sumber sampel yang berbeda, seperti sputum dan feses di samping swab rongga napas atas," kata Ahmad.



Simak Video "Ilmuwan Jerman Pamerkan Alat Uji Corona Baru yang Lebih Cepat"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)