Rabu, 21 Okt 2020 13:31 WIB

Apakah Makanan Terasa seperti Ini? Bisa Jadi Pertanda Infeksi COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Beberapa pasien COVID-19 alami distorsi bau. (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Topik Hangat Fenomena Long COVID-19
Jakarta -

Semakin hari gejala COVID-19 dilaporkan makin ringan yang membuat banyak orang tak sadar telah terinfeksi penyakit mematikan tersebut. Namun saat ini makin banyak pasien yang melaporkan tanda tak biasa yang mereka alami terutama saat makan.

Kehilangan kemampuan untuk mencium atau mengecap jadi dua gejala yang terkait dengan infeksi COVID-19. Meski banyak yang normal kembali, kondisi ini bisa membuat seseorang mengalami distorsi bau.

Ini dibuktikan oleh pengalaman yang dibagikan oleh pasien bernama Kate McHenry, yang baru-baru ini berbicara kepada BBC tentang gangguan pengecapnya.

"Saya suka makanan enak, pergi ke restoran, minum-minum dengan teman-teman, tapi sekarang semua itu sudah hilang. Daging rasanya seperti bensin dan anggur prosecco rasanya seperti apel busuk," kata Kate.

Jika pasangan saya, Craig, makan kari, saya merasa baunya sangat tak enak. Bahkan saya merasa baunya keluar dari pori-porinya, jadi saya berjuang kalau berada di dekatnya," sambungnya.

Kondisi lain juga dialami oleh Pasquale Hester. Baginya, rasa pasta gigi membuatnya muntah-muntah sehingga ia terpaksa menyikat gigi dengan garam yang rasanya, anehnya, sangat normal.

Seperti banyak penderita COVID-19 lain, butuh berminggu-minggu sebelum indra penciumannya pulih setelah ia terinfeksi virus corona. Namun, ketika dia makan kari di ulang tahunnya di bulan Juni, dia menyadari indra penciumannya yang kacau.

"Saya makan poppadum (roti India) tetapi langsung melepehnya karena rasanya seperti cat. Beberapa makanan lebih bisa dimakan daripada yang lain," kata Pasquale.

Pasien COVID-19 mengalami anosmia karena COVID-19 merusak jaringan dan ujung saraf di hidung mereka. Ketika saraf itu tumbuh kembali, parosmia atau distorsi bau bisa terjadi dan otak tidak dapat mengidentifikasi bau sebenarnya dari suatu benda.

Prof Claire Hopkins, presiden British Rhinological Society (BRS), mengatakan ada kepercayaan salah bahwa kehilangan indra penciuman akibat COVID-19 berlangsung sebentar. Padahal pada beberapa pasien kondisi ini bisa berlangsung lama dan parah.

"Ya, ada peluang bagus untuk sembuh, tetapi ada sejumlah besar orang yang akan kehilangan bau dalam jangka waktu lama dan dampaknya terabaikan sepenuhnya." kata Claire.



Simak Video "Yang Harus Dilakukan Jika Tak Bisa Cium Bau Seperti Gejala Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)
Topik Hangat Fenomena Long COVID-19