Kamis, 22 Okt 2020 15:07 WIB

Vaksin COVID-19 Impor dari China, Uji Klinis di Bandung Bagaimana?

Yudha Maulana - detikHealth
Female doctor holding a syringe Vaksin COVID-19 (Foto: thinkstock)
Bandung -

Ketua Tim Uji Klinis Vaksin COVID-19 Kusnandi Rusmil mengatakan vaksin Sinovac yang diimpor dari China untuk vaksinasi tahap I di Indonesia, tidak akan berbeda dengan vaksin yang tengah diuji kliniskan di Kota Bandung saat ini.

Sedianya, vaksin Sinovac yang tengah diuji kliniskan di Indonesia akan diproduksi secara masif oleh Bio Farma setelah proses uji klinis selesai pada Maret 2021 mendatang. Seraya menanti uji klinis, pemerintah pusat akan mendatangkan vaksin dari tiga produsen yang berbeda dari China, salah satunya adalah dari Sinovac Biotech pada November mendatang..

"Ada wacana mempercepat karena pandemi. Mau beli vaksin sinovac juga tapi vaksin yang bukan Bio Farma, tapi dia pakai vaksin sinovac yang sudah diuji di Uni Emirat Arab, Brasil dan Turki dia itu selesainya lebih cepat yaitu November. Karena uji klinisnya sudah lebih dulu dibanding di Indonesia," ujar Kusnandi saat ditemui detikcom di kediamannya, ditulis Kamis (22/10/2020).

"Boleh-boleh saja karena syarat vaksin itu digunakan kalau sudah uji klinis fase tiga. Fase tiga itu namanya multi center, Indonesia, Brasil, Pakistan, nah itu bisa digunakan. Indonesia nanti itu izinnya dari Badan POM, kalau mau dijual keluar negeri izinnya dari WHO," katanya.

Soal perbedaan vaksin Sinovac dari China dan yang akan dibuat oleh Bio Farma nanti, Kusnandi mengatakan tidak ada perbedaan yang signifikan, hanya soal waktu uji klinisnya saja yang lebih cepat.

"Enggak beda, bentuk (virusnya) sama. kan penyakit ini baru datangnya pada Januari sampai sekarang 10 bulan, yang kena di seluruh dunia sudah 20 juta yang meninggal udah 800 ribu jadi kumannya benar-benar jahat sehingga harus dicari vaksinnya. Masalah nanti yang berbeda antara virusnya dari luar negeri, dari China, dari Inggris itu enggak jadi masalah," katanya.

"Jadi dia ini baru 10 bulan, belum banyak berubah bentuknya hampir sama masih tercover vaksin ini. Tapi nanti umpamanya sudah 10 tahun mungkin berbeda. Kalau sekarang ini 90 persen belum berbeda masih tercover vaksin yang ada," pungkas Kusnandi.



Simak Video "Sederet Fakta Vaksin COVID-19 Pfizer yang Uji Klinisnya Sudah Rampung"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)