Jumat, 23 Okt 2020 10:01 WIB

Tak Cuma Sesak Napas, Peneliti Ungkap Gejala COVID-19 Baru yang Berisiko Fatal

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Covid-19: Bagaimana mutasi memberi petunjuk tentang penyebaran dan asal-usul virus corona Tak cuma sesak napas, peneliti temukan gejala baru COVID-19 yang berisiko fatal. (Foto: BBC Magazine)
Topik Hangat Fenomena Long COVID-19
Jakarta -

Pasien COVID-19 bisa mengeluhkan gejala ringan hingga sedang, bahkan fatal. Sesak napas menjadi salah satu gejala khas COVID-19 yang menunjukkan risiko fatal jika segera tak ditangani.

Namun, baru-baru ini peneliti juga menemukan gejala COVID-19 baru yang berkaitan dengan neurologis. Gejala-gejala yang dilaporkan ini disebut bisa berisiko fatal karena pasien mengeluhkan gejala berkepanjangan atau 'Long COVID'.

Sebuah laporan studi dari Northwestern mengungkapkan hampir 82 persen pasien virus Corona COVID-19 mengalami beberapa jenis gejala neurologis di beberapa titik selama positif Corona. Studi tersebut melibatkan 509 pasien dengan gejala COVID-19 sangat parah sehingga membutuhkan rawat inap.

Gejala COVID-19 tersebut termasuk hilangnya kemampuan mencium dan merasakan sesuatu. Namun, ada satu gejala yang menjadi perhatian para peneliti yaitu ensefalopati.

Apa itu ensefalopati?

Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), ensefalopati adalah istilah untuk setiap penyakit otak yang menyebar, mengubah fungsi atau struktur otak.

"Ciri dari ensefalopati adalah kondisi mental yang berubah," jelas NINDS, dikutip dari The Sun.

Apa saja gejala neurologis pada pasien COVID-19 yang berisiko fatal?

"Bergantung pada jenis dan tingkat keparahan ensefalopati, gejala neurologis yang umum adalah hilangnya memori dan kemampuan kognitif secara progresif, perubahan kepribadian halus, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, lesu, dan hilangnya kesadaran secara progresif," lanjut NINDS.

Ini mungkin membantu menjelaskan gejala 'brain fog' yang tidak jarang dilaporkan muncul dalam keluhan pasien COVID-19 selama pandemi. Seorang pasien mengungkapkan dampak gejala samar ini saat tujuh bulan berlalu, sejak pertama kali dinyatakan positif COVID-19.

"'Brain fog' kabut otak sepertinya deskripsi yang inferior tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ini benar-benar melumpuhkan. Saya tidak dapat berpikir cukup jernih untuk (melakukan) apa pun," kata Mirabai Nicholson-McKellar yang berusia 36 tahun dari Byron Bay, berbicara kepada The Guardian.

"Ini sering menghalangi saya untuk dapat melakukan percakapan yang koheren atau menulis pesan teks atau email," keluhnya.



Simak Video "Mengenal 'Happy Hypoxia' yang Tewaskan Pasien Covid-19 di Banyumas"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)
Topik Hangat Fenomena Long COVID-19