Sabtu, 24 Okt 2020 18:00 WIB

Norovirus Ditemukan di Indonesia, Ini Gejala dan Cara Penyebarannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Otoritas kota Beijing, China kini mampu melakukan pemeriksaan virus Corona (COVID-19) terhadap nyaris 1 juta orang setiap harinya. Norovirus yang mewabah di China. (Foto ilustrasi: Getty Images)
Jakarta -

Sebanyak lebih dari 70 mahasiswa di universitas daerah Taiyuan, China, terserang wabah virus norovirus yang menyebabkan muntah-muntah dan diare. Namun, ternyata norovirus ini bukanlah virus baru. Bahkan faktanya, virus norovirus ini sudah ditemukan juga di Indonesia.

"Virus ini (norovirus) juga ada di Indonesia seperti yang dilaporkan oleh peneliti Indonesia di jurnal internasional dari Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga," jelas Dekan FKUI Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD(K), melalui rilis yang diterima detikcom beberapa waktu lalu.

Norovirus adalah virus yang bisa menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Virus ini pertama kali ditemukan dan mewabah pada tahun 1972, di Kota Norwalk dan dijuluki sebagai virus Norwalk.

Kasus norovirus di Indonesia juga dimuat dalam Journal of Medical Virology pada Mei 2020 lalu. Penelitian yang dilakukan di awal 2019 ini mengambil sampel dari beberapa RS di Kota Jambi.

Hasilnya, dari 91 sampel feses ada 14 sampel atau 15,4 persen di antaranya mengandung norovirus. Prof Ari mengatakan, kasus ini juga pernah terjadi di beberapa kota di Indonesia.

Berapa lama gejala norovirus muncul?

Gejala norovirus meliputi mual, muntah, nyeri perut, dan diare. Ada pun beberapa gejala lain yang bisa muncul, seperti demam ringan, panas dingin, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

Gejala ini bisa muncul 24 jam setelah mengkonsumsi makanan yang diduga tercemar virus. Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari RS Awal Bros Evasari, Jakarta Timur, dr Amanda Pitarini Utari, SpPD, gejalanya muncul lumayan cepat.

"Kalau misalnya 1-2 hari dia habis kontak terus 1-2 hari kemudian muncul gejalanya, bisa dipikirkan salah satunya jangan-jangan dia virus, rotavirus dan norovirus," jelasnya saat dihubungi detikcom.

Untuk memastikannya, dr Amanda menyarankan untuk tetap melakukan pemeriksaan lewat uji lab.

Selanjutnya
Halaman
1 2