Rabu, 28 Okt 2020 10:30 WIB

Aliansi Dokter Dunia Singgung Pemurnian COVID-19, dr Tirta: Kayak Bensin

Tim detikHealth - detikHealth
Pengendara motor terpaksa membeli Bensin Pertamax di SPBU Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2013). Premium di SPBU ini habis karena keterlambatan pengiriman karena maraknya aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM di Jakarta. File detikFoto. Bensin murni (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Dalam salah satu klaimnya, Aliansi Dokter Dunia menyebut 90 persen hasil positif dalam tes PCR (polymerase chain reaction) untuk COVID-19 adalah false positive. Pasalnya, sampel virus tidak dimurnikan.

"Dimurnikan itu apa maksudnya? Sulingan? Sulingan bensin?" celetuk influencer yang juga dokter, dr Tirta Mandira Hudhi, dalam perbincangan di Instagram Live bersama seorang kandidat doktor dari Kobe Unversity, dr Adam Prabata, Selasa (27/10/2020).

Istilah 'bensin murni' memang pernah populer di masa kejayaan mesin 2-tak. Kala itu, bensin atau bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan bermesin 2-tak harus dicampur dengan oli samping terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang bakar. Bensin murni adalah bensin yang belum dicampur oli samping.

Sementara itu, klaim soal 'false positive' dalam PCR tersebut sebenarnya didasari oleh pemahaman bahwa virus Corona meninggalkan fragmen-fragmen yang terkadang masih terbaca oleh tes PCR. Hasil positif ini masih bisa didapatkan bahkan sampai beberapa pekan setelah pasien dinyatakan 'sembuh' dari COVID-19.

Menanggapi klaim tersebut, dr Adam menyebut teknologi yang ada saat ini sudah bisa mengatasi masalah tersebut. Salah satunya dengan Meta Genomic RNA Sequencing.

"Cairan yang ada di paru-paru diambil, terus ada prosesnya supaya isinya RNA semua," jelas dr Adam.

WHO sendiri dalam rekomendasi terbarunya memang sudah tidak mewajibkan hasil PCR negatif bagi pasien COVID-19 bergejala ringan-sedang untuk mengakhiri isolasi (discharge from isolation). Isolasi dinyatakan selesai jika sudah tidak bergejala dan sudah menjalani isolasi 10-13 hari.

Dalam praktiknya, beberapa pasien memang masih akan mendapat hasil positif hingga beberapa pekan setelah dinyatakan 'sembuh', yakni ketika sudah tidak bergejala dan masa isolasinya berakhir. Namun diyakini, statusnya sudah tidak 'infectious' atau tidak menularkan virus.



Simak Video "Epidemiolog Soroti Cara Pemerintah Tangkal Hoax Konspirasi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)