Rabu, 28 Okt 2020 14:21 WIB

Langkah BPOM Jika Vaksin COVID-19 Ternyata Berisiko Tinggi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Virus corona: Para pemimpin dunia sepakat galang Rp120 triliun demi ciptakan vaksin virus corona (Foto: BBC World)
Jakarta -

Vaksin COVID-19 rencananya tiba November 2020 dan vaksinasi tahap awal diberikan pada tenaga kesehatan serta pelayanan publik. Meski begitu, BPOM menegaskan hingga saat ini belum ada satu pun vaksin COVID-19 yang uji klinisnya sudah selesai.

"Sampai saat ini belum ada vaksin COVID-19 yang sudah mendapatkan izin edar. Semua kandidat vaksin COVID-19 yang ada masih dalam proses pengembangan uji klinik," tegas Dra Togi J Hutadjulu, Apt, MHA, Plt Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif BPOM dalam konferensi pers Rabu (28/10/2020).

Meski nanti vaksin COVID-19 sudah mendapatkan penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA), BPOM akan terus melakukan pemantauan terkait keamanan vaksin COVID-19. Jika pasca imunisasi, efek samping yang dikeluhkan semakin sering, BPOM akan meninjau kembali keamanan vaksin.

"Apabila terdapat peningkatan frekuensi efek samping, BPOM berhak untuk meninjau kembali aspek keamanan dan khasiat vaksin dengan ditemukan bukti baru terkait dengan keamanan vaksin tersebut," lanjutnya.

Pemantauan BPOM ini akan dilakukan dengan berbagai ahli di bidangnya untuk kembali meninjau keamanan vaksin COVID-19. Hal ini disebutnya sebagai salah satu langkah kehati-hatian terhadap kemungkinan risiko yang muncul usai vaksinasi.

"Dan jika ditemukan risiko lebih besar dari manfaatnya, hasil keputusan BPOM berdasarkan pemantauan tersebut akan ditindak lanjuti, dengan melakukan komunikasi risiko," ungkapnya.

"Dan dapat juga kalau memang ini memiliki risiko yang tinggi akan dilakukan pencabutan EUA," pungkasnya.



Simak Video "Alasan Vaksin Corona EUA Ditunda hingga Januari 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)