Senin, 02 Nov 2020 10:33 WIB

Alergi Dingin Bikin Pria Ini Hampir Kehilangan Nyawa di Kamar Mandi

Ayunda Septiani - detikHealth
Thermometer on snow shows low temperatures under zero. Low temperatures in degrees Celsius and fahrenheit. Cold winter weather twenty under zero.Thermometer on snow shows low temperatures under zero. Low temperatures in degrees Celsius and fahrenheit. Cold winter weather twenty under zero. Ilustrasi termometer. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Seorang pria asal Colorado, Amerika Serikat hampir kehilangan nyawa saat melangkah keluar dari ruang pancuran air panas ke kamar mandi dingin. Menurut sebuah laporan, pria tersebut memiliki alergi dingin dengan reaksi serius yang dapat menyebabkan kematian atau anafilaksis.

Menurut laporan kasus yang diterbitkan pada 27 Oktober di The Journal of Emergency Medicine, pria berusia 34 itu ditemukan pingsan di lantai kamar mandi oleh keluarganya. Pria tersebut mengalami kesulitan bernapas dan kulitnya gatal-gatal.

Dikutip dari laman Live Science, ia mengalami reaksi alergi yang mengancam nyawa di seluruh tubuh yang dikenal sebagai anafilaksis. Saat paramedis tiba, keluarganya memberitahu mereka bahwa pria tersebut memiliki riwayat alergi terhadap cuaca dingin.

Dia sebelumnya mengalami gatal-gatal sebagai reaksi terhadap dingin, tetapi bukan anafilaksis. Kejadian ini dimulai setelah dia pindah dari Mikronesia yang merupakan negara kepulauan di Amerika yang memiliki iklim tropis, ke Colorado yang suhunya lebih dingin.

Setelah dilarikan ke rumah sakit, paramedis merawat pria itu dengan epinefrin dan oksigen dan membawanya ke ruang gawat darurat. Ketika sampai di rumah sakit, dia berkeringat banyak dan merasakan gatal-gatal di sekujur tubuhnya.

Dokter mendiagnosisnya dengan urtikaria dingin, reaksi alergi pada kulit setelah terkena suhu dingin, termasuk udara dingin atau air dingin, menurut Mayo Clinic. Orang juga dapat mengembangkan gejala setelah mengonsumsi makanan atau minuman dingin, lapor Live Science.

Gejala yang paling umum dirasa adalah ruam merah dan gatal (gatal-gatal) setelah terpapar dingin, tetapi dalam kasus yang lebih serius, orang dapat mengembangkan anafilaksis yang dapat menyebabkan tekanan darah turun dan saluran udara menyempit, sehingga sulit bernapas.

Reaksi yang lebih parah ini biasanya terjadi dengan kulit seluruh tubuh terpapar dingin, seperti saat orang berenang di air dingin. Dalam kasus pria tersebut, seluruh tubuhnya terkena udara dingin setelah keluar dari kamar mandi.

Dokter mengkonfirmasi diagnosis pria tersebut dengan menggunakan "tes es batu," yang melibatkan penempatan es batu di kulit selama sekitar 5 menit. Jika pasien mengembangkan benjolan merah yang menonjol pada kulit tempat es batu berada, mereka didiagnosis dengan urtikaria dingin.

Belum diketahui seberapa umum kondisi ini, namun satu studi di Eropa menemukan prevalensi 0,05 persen, menurut National Institutes of Health. Reaksi anafilaksis lebih jarang terjadi daripada reaksi seperti alergi lainnya.

Dalam kebanyakan kasus, penyebab dari kondisi ini tidak diketahui lebih lanjut. Namun terkadang dapat diturunkan, yang berarti orang-orang memiliki kecenderungan genetik. Pada orang lain, urtikaria dingin dipicu oleh sesuatu yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, seperti infeksi virus atau kanker tertentu.

Reaksi alergi terjadi akibat paparan dingin yang menyebabkan sistem kekebalan melepaskan bahan kimia yang disebut histamin, ini bisa memicu respons peradangan.

Di rumah sakit, pria itu dirawat dengan antihistamin dan steroid, dan kondisinya membaik. Sebelum ia meninggalkan rumah sakit, ia dinasehati untuk menghindari paparan dingin atau situasi lain di mana seluruh tubuhnya akan terkena hawa dingin. Dia juga diresepkan oleh dokter berupa injektor otomatis epinefrin, yang dapat mengobati anafilaksis dalam situasi darurat.



Simak Video "Si Kecil Alergi, Berikut Cara Jaga Imunitasnya"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)