Senin, 02 Nov 2020 13:31 WIB

Pangeran William Sempat Sesak Napas, Ini Gejala COVID-19 yang Berisiko Fatal

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Covid 19: Pangeran William teruji positif virus corona pada April Foto: BBC World
Jakarta -

Kabar Pangeran William positif COVID-19 menjadi sorotan publik. Pasalnya, Pangeran William dinyatakan positif COVID-19 pada April lalu.

Menurut informasi dari Istana Kensington, kabar positif COVID-19 Pangeran William sengaja dirahasiakan. Bahkan, Pangeran William sempat mengalami sesak napas akibat COVID-19.

"Ada hal penting yang sedang terjadi dan saya tidak ingin membuat siapapun khawatir," kata Pangeran William, dikutip oleh The Sun.

"William terdampak virus itu sangat berat'. Pada satu masa ia susah bernapas, jelas semua orang di sekitarnya sangat panik," sebut seorang sumber kepada The Sun.

Sesak napas seperti yang dialami Pangeran William termasuk salah satu gejala COVID-19 yang bisa memicu kondisi fatal jika tak segera ditangani. Selain sesak napas, usia lanjut serta respons kekebalan tubuh juga menjadi faktor yang memperparah kondisi akibat COVID-19.

Namun, adapula kondisi fatal yang bisa saja tidak menimbulkan gejala apapun. Kondisi ini bahkan kerap tak disadari pasien COVID-19 pada awal terpapar, yaitu happy hypoxia.

Pasien COVID-19 yang mengalami happy hypoxia biasanya memiliki saturasi oksigen yang rendah tetapi tak mengalami gejala sesak napas. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS), ada beberapa tanda atau gejala COVID-19 yang harus diwaspadai membuat kondisi fatal hingga kematian.

Apa saja tandanya?

- Kesulitan bernapas
- Nyeri atau tekanan yang terus-menerus di dada
- Kebingungan
- Ketidakmampuan untuk bangun atau tetap terjaga
- Bibir, wajah atau kuku kebiruan (kondisi ini bisa menunjukkan happy hypoxia)

Meski begitu, hingga saat ini, banyak pasien COVID-19 yang mengalami kondisi fatal akibat penyakit penyerta. Penyakit penyerta membuat pasien COVID-19 memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah sehingga tak mampu melawan COVID-19.

"Jika sistem kekebalan tubuh tidak kuat, kemungkinan besar virus itu dapat berkembang biak di dalam paru-paru dan menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan parut. Sistem kekebalan akan melawannya dan menghancurkan jaringan paru yang sehat dalam prosesnya," kata Dr Sarah Jarvis GP, Direktur Klinis Patient Access, dikutip dari The Sun.



Simak Video "WHO Rekomendasikan Obat untuk Kurangi Risiko Kematian Pasien COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)