Jumat, 06 Nov 2020 18:00 WIB

Herbal untuk Obat Virus Corona, Mitos atau Fakta?

Rosmha Widiyani - detikHealth
COVID-19 named by WHO for Novel coronavirus NCP concept. Doctor or lab technician in PPE suit holding blood sample with novel (new) coronavirus  in Wuhan, Hubei Province, China, medical and healthcare Foto: Getty Images/iStockphoto/Pornpak Khunatorn/Herbal untuk Obat Virus Corona, Mitos atau Fakta?
Jakarta -

Pandemi virus corona dan efeknya telah dirasakan selama beberapa bulan. Seiring waktu berbagai upaya diklaim dapat menyembuhkan COVID-19, salah satunya konsumsi herbal.

Dikutip dari BBC, klaim herbal untuk obat virus corona sempat dikatakan Perdana Menteri India Narendra Modi. Pemimpin India ini menggunakan strategi tersebut untuk melawan virus corona.

Modi mengatakan, masyarakat harus mengikuti panduan resmi penggunaan kombinasi herbal kadha. Paduan herbal ini dikatakan mampu meningkatkan daya tahan tubuh atau imunitas.

Efek inilah yang menjadikan kadha sebagai salah satu herbal untuk obat virus corona. Kementerian Ayurveda, Yoga & Naturopathy, Unani, Siddha and Homoeopathy (AYUSH) India juga mempromosikan beberapa praktik medis khas India.

Penggunaan herbal untuk obat virus corona mendapat tanggapan dari immunologis Akiko Iwasaki. Menurut ahli dari Yale University ini, banyak klaim yang masih perlu dicek kebenarannya.

"Masalahnya adalah banyak klaim yang tidak punya dasar. Misal klaim yang mengatakan suplemen tertentu dapat meningkatkan imun tubuh," kata imunologis Akiko Iwasaki dari Yale University.

Klaim herbal untuk obat virus corona juga sempat terdengar di China, yang berasal dari kebiasaan minum teh. Klaim beredar lewat media sosial merujuk pada dokter Li Wenliang, tenaga kesehatan yang memperingatkan adanya virus corona di Wuhan.

Dalam klaim tersebut dikatakan, dokter Li telah mendokumentasikan bukti sebuah kandungan dalam teh. Komponen methylxanthines yang umum ditemukan dalam teh dikatakan mampu menurunkan efek virus corona.

Methylxanthines memang sering ditemukan dalam teh, kopi, dan coklat. Namun efek methylxanthines terkait obat herbal untuk virus corona masih harus diteliti lebih lanjut.

Dikutip dari artikel Dietary Therapy and Herbal Medicine for COVID-19 Prevention: A Review and Perspective, beberapa herbal memang memiliki efek anti virus dan immunomudulator. Misal ginseng, jamur lingzi, Korean Angelica, hingga lidah buaya.

Namun artikel yang terbit dalam Journal of Traditional and Complementary Medicine tersebut menjelaskan, butuh riset lebih lanjut hingga menjadi herbal untuk obat virus corona. Meski begitu bukan berarti herbal tidak bermanfaat untuk kehidupan manusia.

Artikel yang ditulis Suraphan Panyod dkk tersebut menjelaskan, herbal bisa menjadi terapi pelengkap untuk mencegah infeksi COVID-19. Kandungan dalam herbal akan membantu tubuh tetap sehat dan memiliki sistem imun yang baik.



Simak Video "BPOM Temukan 48 Ribu Iklan Obat Ilegal, Termasuk Herbal Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(row/pal)