Kasus konfirmasi positif COVID-19 di Boyolali kembali mengalami peningkatan cukup signifikan dalam 6 hari terakhir. Boyolali pun dari zona orange, kini kembali masuk zona risiko tinggi atau zona merah Corona.
"Untuk Boyolali ini kebetulan selain jumlah kasus positifnya (COVID-19) bertambah banyak, ini kasus kematiannya juga meningkat. Sehingga akhirnya Boyolali ini skor yang dihitung berdasarkan standar Indek Kesehatan Masyarakat nilainya 1,45 dan ini masuk zona merah atau zona risiko tinggi," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Ratri S Survivalina, ditemui di kantornya jalan Pandanaran, Jumat (13/11/2020).
Dijelaskan Lina, sapaan akrabnya, kasus konfirmasi positif COVID-19 dari tanggal 8 sampai 13 November 2020, bertambah 163 kasus. Rinciannya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Tanggal 8 November 45 kasus
- Tanggal 9 November 10 kasus
- Tanggal 10 November 15 kasus
- Tanggal 11 November 14 kasus
- Tanggal 12 November 60 kasus
- Tanggal 13 November 19 kasus.
Dengan demikian, sampai saat ini jumlah kasus positif virus Corona di Boyolali total sebanyak 1.409 orang. Dari jumlah tersebut yang sudah dinyatakan sembuh atau selesai isolasi sebanyak 1.043. Yang menjalani perawatan ada 114 orang, isolasi mandiri 193 orang dan meninggal dunia 59 kasus.
Tambahan kasus baru sebanyak 163 kasus itu tersebar di 17 kecamatan. Paling tinggi dari Kecamatan Cepogo sebanyak 30 kasus.
"Sebagian besar disumbangkan dari klaster layatan di Desa Paras, Kecamatan Cepogo," kata Lina.
Kemudian tambahan kasus terbesar kedua yakni dari Kecamatan Nogosari. Di wilayah ini terdapat dua klaster keluarga yang angka kasusnya cukup tinggi.
Menurut Lina, di Boyolali saat ini masih ada 22 klaster yang masih aktif. Dari jumlah tersebut mayoritas adalah klaster keluarga. Ada dua klaster keluarga yang cukup besar yaitu JSO dari Desa Jeron, Kecamatan Nogosari sebanyak 14 kasus dan SRS juga dari Desa Jeron sebanyak 15 kasus.
Selain klaster keluarga yang mendominasi kasus Corona di Boyolali, kini juga muncul sejumlah klaster baru. Lina mengungkapkan, klaster baru tersebut yakni klaster layatan di Desa Paras, Kecamatan Cepogo. Jumlah kasusnya saat ini sebanyak 34 kasus, tiga diantaranya sudah dinyatakan sembuh.
"Klaster yang baru selain klaster layatan, ini masih ada klaster piknik yang dari Desa Kragilan (Kecamatan Mojosongo). Jadi ada kegiatan piknik yang dilaksanakan rombongan akhirnya juga menularkan COVID-19," jelas dia.
Klaster piknik ini sudah terdeteksi ada 10 kasus.
"Kemudian klaster di Pasar Lebak (Desa Nepen, Kecamatan Teras) itu klaster tempat kerja karena di pasar," imbuhnya.
Klaster Pasar Lebak saat ini terdeteksi ada 11 kasus.
Lebih lanjut pihaknya mengimbau kepada masyarakat Boyolali untuk disiplin dan patuh dalam penerapan protokol kesehatan. Sehingga diharapkan akan bisa menekan dan memangkas penularan virus Corona.
Simak Video "Satgas Ungkap Efek Libur Panjang Terhadap Kasus Corona di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)











































