Sabtu, 14 Nov 2020 11:05 WIB

ROUND-UP

Kata Pakar soal Kemungkinan Mutasi Corona dari Cerpelai Terjadi di Indonesia

Ayunda Septiani - detikHealth
Malaysia Laporkan Mutasi Covid-19 yang 10 Kali Lebih Menular Mutasi Corona dari cerpelai, mungkinkah terjadi di Indonesia? (Foto: DW (SoftNews)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut mutasi Corona yang semula ditemukan di Denmark, ada di 6 negara. Lima negara lainnya yaitu Italia, Amerika Serikat, Belanda, Swedia, dan Spanyol.

Beberapa ahli pun juga khawatir akan mutasi virus Corona tersebut. Sebelumnya mutasi yang disebut dengan 'Cluster 5' ini dikhawatirkan bisa mempengaruhi efektivitas dan kemanjuran vaksin di masa depan, yang saat ini sedang diteliti lebih dalam oleh ilmuwan berpengalaman.

Mungkinkah mutasi Corona dari cerpelai bisa terjadi di Indonesia?

Menanggapi hal ini, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio mengatakan kemungkinannya kecil dan baru menjadi sebuah kekhawatiran. Selain tidak ada peternakannya seperti di Denmark, jenis musangnya pun berbeda dengan yang ada di Indonesia.

"Tapi jenis musangnya beda ya. Dan di Denmark hewan yang termasuk golongan tupai atau musang ini karena bulunya bagus makanya diternak. Nah yang ditemukan di sana itu kalau nggak salah ada 4 peternakan, itu ada (virus Corona) di musangnya dan di peternaknya juga ada," jelas Prof Amin saat dihubungi detikcom, Kamis (12/11/2020).

"Yang jadi perhatian itu karena ditemukan kombinasi mutasi yang tidak biasa, tetapi ini baru kekhawatiran," lanjutnya.

Menurut Prof Amin masih terlalu jauh jika mutasi Corona dicurigai bisa menjadi potensi pandemi baru. Sebab, hingga saat ini mutasi Corona dari cerpelai masih SARS-CoV-2.

"Kalau dibilang kemungkinan (pandemi baru) ya bisa saja. Semua mutasi bisa jadi virus SARS-Coronavirus yang berbeda. Tetapi, saat ini sih masih SARS-CoV-2, masih satu famili. Ya mungkin bedanya hanya varian-varian saja," tambahnya.

Bisakah berisiko mempengaruhi efektivitas vaksin?

Hasil awal penelitian menunjukkan vaksin potensial yang dikembangkan di Denmark mampu melawan mutasi Corona dari cerpelai. Hal ini berdasarkan percobaan dengan kelinci.

"Apakah ini juga berlaku untuk vaksin lain dan apakah itu berlaku untuk antibodi manusia, kami tidak tahu," jelas Fomsgaard yang dikutip dari Al Jazeera, Jumat (13/11/2020).

Seberapa berbahaya mutasi Corona dari Cerpelai ini?

Lebih lanjut, Prof Amin mengatakan, sampai saat ini kemungkinan mutasi virus dari cerpelai ini bisa mempengaruhi efektivitas vaksin Corona tergantung pada kondisi mutasi tersebut.

"Tapi tergantung mutasi itu apakah dia mempengaruhi bagian dari virus itu, yang biasanya adalah protein spike. Apakah mutasi itu mempengaruhi daerah yang menjadi target vaksin tersebut," lanjut Prof Amin.

Prof Amin menegaskan, jika selama mutasi virus Corona itu tidak mempengaruhi bagian reseptor virus (RBD), tidak akan memberikan pengaruh pada kinerja vaksin nantinya.

"Selama mutasi itu tidak mempengaruhi yang namanya rbd (bagian reseptor virus) atau Receptor Binding Domain, maka biasanya tidak akan mempengaruhi kinerja vaksin," jelasnya.



Simak Video "Denmark Musnahkan 15 Juta Cerpelai Akibat Penularan Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)